ANALISIS
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO, INFLASI DAN NET EKSPOR PROVINSI DI INDONESIA
ISSN
: 2540-816X Volume 1 Nomor 1 Edisi Februari 2016 26
Oleh: Aris Munandar,
SE., M.Si
PENDAHULUAN
Pada dasarnya,
pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai suatu proses pertumbuhan output perkapita
dalam jangka panjang. Hal ini berarti, bahwa dalam jangka panjang kesejahteraan
tercermin pada peningkatan output perkapita yang sekaligus memberikan banyak
alternatif dalam mengkonsumsi barang dan jasa, serta diikuti oleh daya beli
masyarakat yang semangkin meningkat. Pertumbuhan ekonomi jugabersangkut paut
dengan proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi
masyarakat. Sehingga dapat dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi menyangkut
perkembangan yang berdimensi tunggal dan diukur dengan meningkatnya hasil
produksi dan pendapatan. (Boediono,2005). Selama periode tahun 2009 – 2013,
pertumbuhan ekonomi Indonesia tertinggi terjadi pada tahun 2011 sebesar 6,49%.
Kenaikan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini diduga diakibatkan oleh pengaruh
dari faktor - faktor yang mempengaruhinya diantaranya adalah peningkatan
konsumsi, investasi dan pengeluaran pemerintah. Disamping itu, pertumbuhan
ekonomi Indonesia terendah terjadi pada tahun 2009 sebesar 5,00%. Rendahnya
pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini diduga disebabkan oleh turunnya
konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah (Badan Pusat Statistik, 2013).
Krisis ekonomi global yang melanda sebagian besar negara di dunia termasuk
Indonesia, memperlihatkan bahwa keseimbangan dalam perekonomian suatu negara
tidak bisa dengan hanya mengandalkan sektor swasta. Kontribusi sektor
pemerintah juga sangat dihandalkan. Terutama faktor pengeluaran pemerintah,
investasi pemerintah yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan net ekspor
yang dapat meningkatkan pendapatan nasional. Untuk mendorong pertumbuhan
ekonomi maka Pemerintah juga akan melakukan peningkatan pengeluarannya.
Pengeluaran pemerintah mencerminkan kebijakan pemerintah. Apabila pemerintah
telah menetapkan suatu kebijakan untuk membeli barang dan jasa, penegeluaran
pemerintah mencerminkan biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk
melaksanakan kebijakan tersebut. Pada tahap awal perkembangan ekonomi
diperlukan pengeluaran negara yang besar untuk investasi pemerintah, utamanya
untuk menyediakan infrastruktur seperti sarana jalan, kesehatan dan pendidikan.
Pada tahap menengah pembangunan ekonomi, investasi tetap diperlukan untuk
pertumbuhan ekonomi, namun diharapkan investasi sektor swasta sudah mulai
berkembang. Pada tahap lanjut pembangunan ekonomi, pengeluaran pemerintah tetap
diperlukan, utamanya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, misalnya
peningkatan pendidikan, kesehatan dan jaminan sosial. Perekonomian suatu Negara
juga tidak dapat berdiri sendiri tetapi berhubungan dengan kerjasama dengan
Negara lain. Terjadinya pergeseran siklus dan tatanan ekonomi global merupakan
tantangan yang dihadapi perekonomian global. Tantangan tersebut tidaklah
ringan, mengingat pergeseran siklus terjadi di tiga area berbeda yang saling
terkait satu sama lain. Pergeseran pertama ialah beralihnya lanskap ekonomi
dunia yang ditandai oleh meningkatnya pertumbuhan ekonomi negara maju dan
menurunnya pertumbuhan ekonomi negara berkembang. Pergeseran kedua terkait
dengan berlanjutnya tren penurunan harga komoditas dunia. Pergeseran yang
terakhir adalah mulai beralihnya arus modal dunia, dipengaruhi berakhirnya era
kebijakan moneter longgar di AS. (Bank Indonesia. 2013). Kondisi perekonomian
global yang masih mengalami tekanan akibat krisis menghadapkan perekonomian
Indonesia pada sejumlah tantangan yang tidak ringan selama tahun 2009.
Tantangan itu cukup mengemuka pada awal tahun 2009, sebagai akibat masih
kuatnya dampak krisis perekonomian global yang mencapai puncaknya pada triwulan
IV 2008. Ketidakpastian yang terkait dengan sampai seberapa dalam kontraksi
global dan sampai seberapa cepat pemulihan ekonomi global akan terjadi, bukan
saja menyebabkan tingginya risiko di sektor keuangan, tetapi juga berdampak
negatif pada kegiatan ekonomi di sektor riil domestik. Kondisi tersebut
mengakibatkan stabilitas moneter dan sistem keuangan pada triwulan I 2009 masih
mengalami tekanan berat, sementara pertumbuhan ekonomi juga dalam tren menurun
akibat kontraksi ekspor barang dan jasa yang cukup dalam. Kondisi tersebut
Volume 1 Nomor 1 Edisi Februari 2016 ISSN : 2540-816X JOURNAL Ecoment Global 23
menurunkan kepercayaan pelaku ekonomi di sektor keuangan dan sektor riil, serta
berpotensi menurunkan berbagai kinerja positif yang telah dicapai dalam
beberapa tahun sebelumnya. (Badan Pusat Statistik, 2014) Sehubungan dengan hal
diatas, maka perlu dilakukan suatu pengkajian ilmiah terhadap faktor - faktor
yang mempengaruhi Produk Domestik Regional Bruto, Inflasi dan net ekspor
provinsi di Indonesia. Dalam hal ini faktor - faktor yang dianalisis adalah
Ekspor dan impor, Pengeluaran Pemerintah, Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi dan
kurva penawaran agregat adalah titik keseimbangan ekonomi (equilibrium) yang
menghasilkan suatu jumlah output agregat (PDB) tertentu dengan tingkat harga
umum tertentu. Output agregat yang dihasilkan selanjutnya membentuk pendapatan
nasional. Teori - teori pertumbuhan ekonomi yang berkembang antara lain:
1. Teori Pertumbuhan
Klasik
2.
TeoriPertumbuhanHarrod-Domar
3.
TeoriPertumbuhanEkonomiSolow–Swan
Teori Konsumsi dari
John Maynard Keynes Keynes mengedepankan variabel utama dalam analisisnya yaitu
konsumsi dipengaruhi oleh tingkat pendapatan C = f (Y). Keynes mengajukan 3
asumsi pokok secara makro dalamt eorinya yaitu:
1) Kecenderungan mengkonsumsi marginal
(marginal propensity toconsume) i jumlah yang dikonsumsi dalam setiap tambahan
pendapatan adalah antaranol dan satu.
2) Keynes menyatakan
bahwa kecenderungan mengkonsumsi rata-rata (average prospensity toconsume),
turunketika pendapatan naik.
3) Keynes berpendapat bahwa pendapatan
merupakan determinan konsumsi yang penting dan tingkat bunga tidak memiliki
peranan penting. Sehingga secara garis besar terori konsumsi Keynes menyatakan
bahwa, (besarkecil) konsumsi masyarakat sangat dipengaruhi oleh besarnya
pendapatan. Sedangkan unsur tabungan tidak terlalu berdampak terhadap perubahan
jumlah barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.
Pengertian
Pertumbuhan Ekonomi
Secara umum,
pertumbuhan ekonomi didefenisikan sebagai peningkatan kemampuan dari suatu
perekonomian dalam memproduksi barang-barang dan jasa-jasa. Pertumbuhan ekonomi
adalah salah satu indikator yang amat penting dalam melakukan analisis tentang
pembangunan ekonomi yang terjadi pada suatu negara. Pertumbuhan ekonomi
menunjukkan sejauh mana aktivitas perekomian akan menghasilkan tambahan
pendapatan masyarakat pada suatu periode tertentu. Karena pada dasarnya
aktivitas perekonomian adalah suatu proses penggunaan faktor - faktor produksi
untuk menghasilkan output, maka proses ini pada gilirannya akan menghasilkan
suatu aliran balas jasa terhadap faktor produksi yang dimiliki oleh masyarakat.
Dengan adanya pertumbuhan ekonomi maka diharapkan pendapatan masyarakat sebagai
pemilik faktor produksi juga akan meningkat. Pertumbuhan ekonomi bisa bersumber
dari pertumbuhan pada sisi permintaan agregat dan sisi penawaran agregat.
Seperti yang diilustrasikan pada gambar 1, titik perpotongan antara kurva
permintaan agregat dan kurva penawaran agregat adalah titik keseimbangan
ekonomi (equilibrium) yang menghasilkan suatu jumlah output agregat (PDB)
tertentu dengan tingkat harga umum tertentu. Output agregat yang dihasilkan
selanjutnya membentuk pendapatan nasional. Teori - teori pertumbuhan ekonomi
yang berkembang antara lain:
1. Teori Pertumbuhan
Klasik
2.
TeoriPertumbuhanHarrod-Domar
3.
TeoriPertumbuhanEkonomiSolow–Swan
Teori Pengeluaran
Pemerintah Teorimikro mengenai pengeluaran pemerintah menyangkut faktor– faktor
yang mempengaruhi timbulnya permintaan akan barang – barang publik dan faktor –
faktor yang mempengaruhi tersedianya barang publik. Interaksi antara permintaan
dan penawaran barang publik menentukan jumlah barang publik yang disediakan
yang selanjutnya akan menimbulkan permintaan terhadap barang lain. Beberapa
faktor yang mempengaruhi pengeluaran pemerintah yaitu:
a. Perubahan permintaan akan barang publik.
b. Perubahan dari aktivitas pemerintah dalam
menghasilkan barang publik dan perubahan dari kombinasi faktor produksi yang
digunakan.
c. Perubahan kualitas barang publik.
d. Perubahan harga faktor– faktor produksi.
Teori Konsumsi dari
John Maynard Keynes Keynes mengedepankan variabel utama dalam analisisnya yaitu
konsumsi dipengaruhi oleh tingkat pendapatan C = f (Y). Keynes mengajukan 3
asumsi pokok secara makro dalamt eorinya yaitu:
1) Kecenderungan
mengkonsumsi marginal (marginal propensity toconsume) ialah jumlah yang
dikonsumsi dalam setiap tambahan pendapatan adalah antaranol dan satu.
2) Keynes menyatakan
bahwa kecenderungan mengkonsumsi rata-rata (average prospensity toconsume),
turunketika pendapatan naik.
3) Keynes berpendapat
bahwa pendapatan merupakan determinan konsumsi yang penting dan tingkat bunga
tidak memiliki peranan penting. Sehingga secara garis besar terori konsumsi
Keynes menyatakan bahwa, (besarkecil) konsumsi masyarakat sangat dipengaruhi
oleh besarnya pendapatan. Sedangkan unsur tabungan tidak terlalu berdampak
terhadap perubahan jumlah barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.
Teori
Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Permanen (Milton Friedman) Teori ini
disampaikan oleh Milton Friedman tahun 1957. Menurut teori ini pendapatan masyarakat
dapat diklasifikasikan menjadi 2 yaitu pendapatan permanen (permanentincome)
dan pendapatan sementara (transitory income) dengan definisi sebagai berikut:
1) Pendapatan permanen
ialah pendapatan yang orang harapkan untuk terus bertahan dimasa depan (Mankiw,
2000).
2) Pendapatan sementara
ialah pendapatan yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya. (Guritno dan
Algifari, 1998). Kesimpulannya, teori konsumsi dari Milton Friedman berpikiran
bahwa pendapatan permanen akan mempengaruhi besarnya jumlah kecenderungan
mengkonsumsi rata - rata masyarakat.
Kecederungan mengkonsumsi tersebut bisa saja
mengarah pada jenis makanan atau non makanan bergantung pada besar-kecilnya
jumlah pendapatan yang diterima oleh masyarakat. Teori Konsumsi dengan
Hipotesis Daur/Siklus Hidup Teori konsumsi dengan Hipotesis Siklus Hidup
disampaikan dikemukaanoleh Franco Modigliani. Modigliani menyatakan bahwa
faktor sosial ekonomi seseorang sangat mempengaruhi pola konsumsi seseorang
tersebu (Guritnodan Algifari, 1998). Modigliani menekankan bahwa pendapatan
bervariasi dan tabungan secara sistematis yang terjadi selama kehidupan
seseorang menjadi kankonsumen mampu menggerakkan pendapatannya ketika dalam
kondisi tinggi ke kondisi yang rendah (Mankiw, 2007). Sehingga teori konsumsi dengan
Hipotesis Daur Hidup dari Franco Modigliani berkesimpulan bahwa, konsumsi
seseorang sangat dipengaruhi oleh kekayaan atau besarnya pendapatan yang
diperoleh. Kecenderungan mengkonsumsi nilainya berdasarkan pada umur, selera
dan tingkat bunga yang dimiliki oleh konsumen itu sendi
Teori Inflasi Tingkat
harga dalam definisi inflasi, secara konseptual adalah tingkat harga ratarata
tertimbang dari barang-barang dan jasajasa dalam perekonomian. Dalam
prakteknya, tingkat harga tersebut diukur dengan indek harga, baik indek harga
konsumen (IHK) mau pun indek harga produsen (IHP). Lawan dari inflasi adalah
deflasi, yaitu penurunan tingkat harga umum (Samuelson dan Nordhaus, 1997:306)
Menurut Boediono (1994:155) definisi singkat dari inflasi adalah kecenderungan
dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga
dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi. Syarat adanya
kecenderungan menaikyang terus menerus juga perlu digaris – bawahi
Kenaikan harga-harga
karena, misalnya, musiman, menjelang hariraya, bencana, dan sebagainya, yang
sifatnya hanya sementara tidak disebut inflasi. Jenis - jenis inflasi dapat
dikelompokkan berdasarkan “parah-tidaknya” inflasi dan berdasarkan penyebab
awal terjadinya inflasi. Berdasarkan “parah-tidaknya”, inflasi dapat
dikelompokkan menjadi (Boediono, 1994:156):
1. Inflasi ringan (dibawah 10% setahun)
2. Inflasi sedang (antara10 –30% setahun)
3. Inflasi berat
(antara 30–100% setahun)
4. Hiperinflasi (di
atas 100% setahun). Dalam hal ini Samuelson dan Nordhaus (1997:793),
mengelompokkan inflasi menjadi tiga jenis, yaitu: inflasi moderat (moderat
inflation), inflasi ganas (galloping inflation), dan hiperinflasi. Berdasarkan
penyebab awal terjadinya inflasi, inflasi dapat dikelompokkan menjadi
(Boediono,1994:156)
1. Inflasi yang timbul
karena permintaan masyarakat akan berbagai barang terlalu kuat. Inflasi semacam
ini disebut demand pullinflation.
2. Inflasi yang timbul
karena kenaikan biaya produksi. Ini disebut cost pushinflation. Kedua jenis
inflasi ini jarang sekali dijumpai dalam praktek dalam bentuk yang murni. Pada
umumnya, inflasi yang terjadi diberbagai negara di dunia adalah kombinasi dari
kedua jenis inflasi tersebut, dan sering kali keduanya saling memperkuat satu
sama lain.
Teori Perdagangan Internasional Dalam perekonomian terbuka, terdapat
terdapat dua tingkat harga umum yaitu harga umum yang berlaku didalam negeri
dan tingkat harga yang berlaku diluar negeri. Pengaruh dari adanya harga luar
negeri ini terhadap proses ekonomi makro khususnya terletak pada timbulnya
kemungkinan bagi pelaku-pelaku ekonomi untuk memilih apakah mereka akan membeli
atau menjual dipasar luar negeri atau pasar dalam negeri. Keputusan semacam ini
jelas mempunyai pengaruh yang penting terhadap posisi keseimbangan pasar barang
dalam negeri dan pasar uang dalam negeri. Secara umum bisa dikatakan bahwa bila
harga dipasar dalam negeri meningkat lebih cepat dari pada harga diluar negeri,
maka pembeli dalam negeri akan cenderung untuk membeli dari pasar luar negeri
(jadi impor cenderumg meningkat) sedangkan para penjual dalam negeri akan
cenderung untuk menjual barangnya dipasar dalam negeri yang menyebabkan ekspor
ke luar negeri berkurang (Boediono, 2001). Dengan mengunakan asumsi tersebut
diperoleh kesimpulan bahwa dengan fungsi produksi yang sama dan bawaan faktor
yang berbeda antar negara. Suatu negara cenderung untuk mengekspor komoditas
yang relatif intensif dalam mengunakan fungsi yang relatif banyak dimiliki, dan
dalam waktu yang bersamaan negara tersebut akan mengimpor komoditas yang
produktifnya memerlukan sumberdaya yang relatif langka dan mahal (Salvatore,
1997). Adanya unsur keterbatasan atau perbedaan ketersediaan sumber daya yang
dimiliki setiap negara, merupakan faktor utama dari munculnya spesialisasi.
prinsip ini merupakandasar berkembangnya ekonomi perdagangan dan keuangan
internasional. Kondisi tersebut menggiring setiap negara melakukan ekspor dan
impor. Ekspor adalah suatu kegiatan ekonomi menjual produk dalam negeri ke
pasar luar negeri. Impor adalah suatu kegiatan membeli produk luar negeri untuk
keperluan atau di pasarkan dalam negeri. Ekspor dan Impor sangat penting untuk
membentuk dan mengendalikan neraca perdagangan disuatu negara. Impor harus
dibiayai dengan nilai yang sama dari
ekspor untuk mempertahankan ekuilibrium neraca perdagangan. Oleh karena itu
negara harus melakukan ekporuntuk membiayai impor yang dibayarkan dengan mata
uang asing sehingga dapat terjadi surplus neraca perdagangan. Kegiatan
ekspor-impor yang dilakukan suatu negara dengan negara lain dalam perdagangan
internasional akan memberikan manfaat bagi suatu negara. kelangsungan ekspor
dilatarbelakangi oleh excess supply oleh satu pihak dan excessdemand
dipihaklain. Konsep excesssupply terjadi disebabkan kecenderungan tingkat harga
suatu barang mengalami kenaikan di atas harga keseimbangan yang berlaku
dipasar, baik pasar domestik maupunin ternasional. Sedangkan excessdemand
justru sebaliknya yaitu kecenderungan tingkat harga dibawah harga keseimbangan.
Besarnya ekspor suatu negara bergantung terhadap permintaan impor negara lain
sehingga mencapai keseimbangan perdagangan internasional yang disebut
balancedof international trade. (Nasution, 2008).
Teori Investasi Investasidalam ekonomimakro,
juga dapat dibedakan atas investasi otonom (otonomous investment) dan investasi
terpengaruh (induced investment). Investasi otonom adalah investasi yang tidak
dipengaruhi oleh pendapatan nasional, artinya tinggi rendahnya pendapatan
nasional tidak menentukan jumlah investasi yang dilakukan oleh
perusahaan-perusahaan. Jenis investasi ini umumnya dilakukan oleh pemerintah
dengan maksud sebagai landasan pertumbuhan ekonomi berikutnya, misalnya
investasi untuk pembuatanjalan, jembatan dan infrastruktur lainnya. Sedangkan
investasi yang terpengaruh adalah investasi yang dipengaruhi oleh pendapatan
nasional, artinya pendapatan nasional yang tinggiakan memperbesar pendapatan
masyarakat dan selanjutnya pendapatan masyarakat yang tinggi tersebut akan
memperbesar permintaan terhadap barang-barang dan jasa-jasa. Maka keuntungan
perusahaan akan bertambah tinggi dan ini akan mendorong dilakukannya lebih
banyak investasi. Kurs Rupiah Nilai tukar mata uang (exchangerate) atau sering
disebutkurs merupakan harga mata uang terhadap mata uang lainnya. Kurs mata
uang adalah perbandingan nilai antar mata uang yang menunjukkan harga suatu
mata uang jika dibandingkan dengan mata uang lain. Menurut Kuncoro (1997), ada
beberapa sistem kurs mata uang yang berlaku di perekonomian internasional,
yaitu:
a. Sistem kurs mengambang (floating
exchangerate) Sistem kurs ini ditentukan oleh mekanisme pasar dengan atau tanpa
upaya stabilisas ioleh otoritas moneter. Dimana dalam sistem mengambang
terdapat dua sistem yaitu sistem mengambang bebasdan sistem mengambang yang
terkendali.
b. Sistem kurs
tertambat (peggedex changerate). Dalam sistem ini, suatu negara mengkaitkan
nilai tukar mata uangnya dengan suatu mata uang negara lain atau sekelompok
mata uang, yang biasanya merupakan mata uang negara partner dagang yang utama
“menambatkan“ kesuatu mata uang berarti nilai tukar mata uang tersebut bergerak
mengikuti mata uang yangmenjadi tambatannya. Jadi sebenarnya mata uang yang
ditambatkan tidak mengalami fluktuasi tetapihanya berfluktuasi terhadap mata
uang lain mengikuti mata uang yang menjadi tambatannya.
c. Sistem kurs tertambat merangkak
(crawlingpegs). Dalam sistem ini, suatu negara melakukan sedikit perubahan
dalam nilai tukar mata uangnya secara periodik dengan tujuan untuk bergerak
menuju nilai tertentu pada rentang waktu tertentu. Keuntungan utama sistem ini
adalah suatu negara dapat mengatur penyesuaian kursnya dalam periode yang lebih
lama dibanding sistem kurs tertambat. Oleh karena itu, sistem ini dapat
menghindar ikejutan- kejutan terhadap perekonomian akibat revaluasi atau
devaluasi yang tiba-tiba dan tajam.
d. Sistem sekeranjang
mata uang(basket of currencies). Banyak negara terutama negara sedang berkemban
menetapkan nilai tukar mata uangnya berdasarkan sekeranjang mata uang.
Keuntungan dari sistem ini adalah menawarkan stabilitas mata uang suatu Negara
karena pergerakan mata uang disebar dalam sekeranjang mata uang. Seleksi mata
uang yang dimasukkan dalam “keranjang“ umumnya ditentukan oleh peranannya dalam
membiayai perdagangan Negara tertentu. Mata uang yang berlainan diberi bobot
yang berbeda tergantung peran relatifnya terhadap negara tersebut. Jadi
sekeranjang mata uang bagi suatu negara dapat terdiri dari beberapa mata uang
yang berbeda dengan bobot yang berbeda.
e. Sistem kurs tetap (fixedex changerate).
Dalam sistem ini, suatu negara mengumumkan suatu kurs tertentu atas nama
uangnya dan menjaga kurs ini dengan menyetujui untuk menjual atau membeli valas
dalam jumlah tidak terbatas pada kurs tersebut. Kurs biasanya tetap atau
diperbolehkan berfluktuasi dalam batas yang sangat sempit. Dalam sistem mata
uang mengambang bebas (free float), apa bila harga suatu mata uang menjadi
semakin mahal terhadap mata uang lain, maka mata uang itu disebut berapresiasi.
Sebaliknya jika harga suatu mata uang turun terhadap mata uang lain, mata uang
itu disebut terdepresiasi. Kurs mata uang asing mengalami perubahan nilai yang
terus menerus dan relatif tidak stabil. Perubahan nilai ini dapat terjadi
karena adanya perubahan permintaan dan penawaran atas suatu nilai mata uang
asing pada masing-masing pasar pertukaran valuta dari waktu ke waktu. Sedangkan
perubahan permintaan dan penawaran itu sendiri di pengaruhi oleh adanya
kenaikan relatif tingkat bunga baik secara bersamasama maupun sendiri-sendiri
terhadap negara. Penelitian Terdahulu Hasil penelitian I Made Yudisthira dan I
Gede Sujana Budhiasa (2012) yang berjudul : Analisis Pengaruh Konsumsi,
Investasi, dan Inflasi Terhadap Produk Domestik Bruto di Indonesia Tahun 2000-
2012 menunjukkan bahwa Variabel konsumsi dan investasi berpengaruh positif dan
signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sedangkan variabel inflasi
berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap Produk Domestik Bruto
(PDB). Besarnya R-squared pada hasil estimasi model PDB adalah sebesar
0.986631, yang berarti bahwa 98.6631 persen perubahan nilai PDB di Indonesia
secara bersama-sama mampu dijelaskan oleh variabel independen yang digunakan
dalam model, yaitu investasi, konsumsi, dan tingkat inflasi. Sedangkan sisanya
sebesar 1.3369 persen dapat dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan
ke dalam model, seperti tingkat ISSN : 2540-816X Volume 1 Nomor 1 Edisi
Februari 2016 28 Aris Munandar, SE., M.Si ekspor, pengeluaran pemerintah,dan
lainlain. Adrian Sutawijaya dan Zulfahmi (2012) meneliti dengan judul: Pengaruh
Faktor-Faktor Ekonomi Terhadap Inflasi di Indonesia, hasil penelitian
menunjukkan bahwa tingkat suku bunga, jumlahuang beredar, investasi, dan nilai
tukar secara simultan mempengaruhi inflasi di Indonesia. Tingkat bunga memiliki
pengaruh positif 1,289%. Uang beredar akan memiliki pengaruh positif terhadap
inflasi 0,001%. Investasi berdampak negatif inflasi - ,0001802%. Kurs memiliki
dampak positif pada inflasi 0,00427%. Sri Endang Rahayu (2011) meneliti dengan
judul: Analisis Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di
Sumatera Utara, hasil penelitian menunjukkan pengeluaran aparatur daerah
mempunyai pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara
dengan besar koefisien 35,697. Artinya apabila pengeluaran aparatur daerah naik
1%, ceteris paribus maka pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara naik sebesar
35,697%. Variabel X2 (pelayanan publik) mempunyai pengaruh positif terhadap
pertumbuhan ekonomi diSumatera Utara dengan besar koefisien 51,062. Artinya
apabila pelayanan publik naik 1%, ceterisparibus maka pertumbuhan ekonomi di
Sumatera Utara naik sebesar 51,062%. Primawan Wisda Nugroho, Maruto Umar Basuki
(2012) meneliti dengan judul: Analisis Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Inflasi
Di Indonesia Periode 2000.1-2011.4, hasil penelitian menunjukkan Variabel
produk domestik bruto (PDB) memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap
inflasi dengan nilai koefisien sebesar 0,011, artinya apabila variable
independen lainnya konstan, maka setiap kenaikan PDB sebesar satu rupiah akan
menaikkan inflasi sebesar 0,011.Variabel suku bunga Sertifikat Bank Indonesia
(SBI), memiliki hubungan positifdan signifikan terhadap inflasi dengan nilai
koefisien sebesar 1,08, artinya apabila variabel independen lainnya konstan,
maka setiap kenaikan SBI sebesar satu rupiah akan menaikkan inflasi sebesar
1,08.Variabel jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) memiliki hubungan
negatif dan signifikan terhadap inflasi dengan nilai koefisien sebesar 0,001,
artinya apabila variabel independen lainnya konstan, maka setiap kenaikan
jumlah uang beredar (M2) sebesar satu rupiah akan menurunkan Inflasi sebesar
0,001.Variabelkurs memiliki hubungan positif dan tidak signifikan terhadap
inflasi dengan nilai koefisien sebesar 0.001, artinya apabila variabel
independen lainnya konstan, maka setiap kenaikan tingkat kurs sebesar
saturupiah akan menaikkan Inflasi sebesar 0.001
KESIMPULAN
DAN SARAN
Dari hasil penelitian
mengenai Analisis Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Net Ekspor Provinsi di
Indonesia dapat disimpulkan sebagai berikut:
Faktor – faktor yang mempengaruhi Inflasi
Provinsi di Indonesia selama tahun pengamatan 2009 – 2013 adalah rata – rata
konsumsi perkapita sebulan provinsi dan Impor provinsi. Hasil analisis secara
simultan rata – rata konsumsi perkapita sebulan provinsi dan impor provinsi
berpengaruh positif signifikan terhadap Inflasi Provinsi di Indonesia. Secara
parsial rata – rata konsumsi perkapita sebulan provinsi berpengaruh positif
signifikan terhadap Inflasi Provinsi di Indonesia atau dengan kata lain apabila
ada peningkatan rata – rata konsumsi perkapita sebulan provinsi maka akan
berpengaruh terhadap peningkatan Inflasi Provinsi di Indonesia. Impor Provinsi
berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap Inflasi Provinsi di
Indonesia atau dengan kata lain kenaikan impor Provinsi belum tentu akan
menaikkan Inflasi Provinsi di Indonesia.
Disarankan research
selanjutnya menjelkaskan lagi secara terperinci mengenai inflasi yang terjadi
di indonesia dan faktor- faktornya yang mempengaruhinya.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Lincoln. 1999. Ekonomi Pembangunan
Edisi Kedua. STIE YKPN. Yogjakarta.
Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional (Bappenas), 2013,
Pembangunan Daerah Dalam Angka 2013.
Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional (Bappenas), 2014,
Pembangunan Daerah Dalam Angka
2014.
Badan Pusat Statistik, 2014. Produk Domestik Bruto
Menurut Penggunaan 2008-2013.
Bank Indonesia. 2013. Laporan Perekonomian
Indonesia 2013.
Boediono, 2001. Indonesia
Menghadapi Ekonomi Global. BPFE Yogyakarta 2001.
Boediono, 2005. Teori Pertumbuhan Ekonomi.
Yogyakarta: BPFE
Boediono. 1994.Teori Ekonomi Makro. Edisi
Keempat. BPFE UGM. Yogyakarta.
Ernita, Dewi. Amar, Syamsul dan
Sofyan, Efrizal. 2013. Analisis Pertumbuhan Ekonomi, Investasi dan Konsumsi di
Indonesia. Jurnal Kajian Ekonomi, Januari 2013, Vol 1, No. 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar