Jumat, 17 Maret 2017

ANALISIS PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO, INFLASI DAN NET EKSPOR PROVINSI DI INDONESIA


ANALISIS PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO, INFLASI DAN NET EKSPOR PROVINSI DI INDONESIA


ISSN : 2540-816X Volume 1 Nomor 1 Edisi Februari 2016 26
Oleh: Aris Munandar, SE., M.Si


PENDAHULUAN
Pada dasarnya, pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai suatu proses pertumbuhan output perkapita dalam jangka panjang. Hal ini berarti, bahwa dalam jangka panjang kesejahteraan tercermin pada peningkatan output perkapita yang sekaligus memberikan banyak alternatif dalam mengkonsumsi barang dan jasa, serta diikuti oleh daya beli masyarakat yang semangkin meningkat. Pertumbuhan ekonomi jugabersangkut paut dengan proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Sehingga dapat dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi menyangkut perkembangan yang berdimensi tunggal dan diukur dengan meningkatnya hasil produksi dan pendapatan. (Boediono,2005). Selama periode tahun 2009 – 2013, pertumbuhan ekonomi Indonesia tertinggi terjadi pada tahun 2011 sebesar 6,49%. Kenaikan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini diduga diakibatkan oleh pengaruh dari faktor - faktor yang mempengaruhinya diantaranya adalah peningkatan konsumsi, investasi dan pengeluaran pemerintah. Disamping itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia terendah terjadi pada tahun 2009 sebesar 5,00%. Rendahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini diduga disebabkan oleh turunnya konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah (Badan Pusat Statistik, 2013). Krisis ekonomi global yang melanda sebagian besar negara di dunia termasuk Indonesia, memperlihatkan bahwa keseimbangan dalam perekonomian suatu negara tidak bisa dengan hanya mengandalkan sektor swasta. Kontribusi sektor pemerintah juga sangat dihandalkan. Terutama faktor pengeluaran pemerintah, investasi pemerintah yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan net ekspor yang dapat meningkatkan pendapatan nasional. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi maka Pemerintah juga akan melakukan peningkatan pengeluarannya. Pengeluaran pemerintah mencerminkan kebijakan pemerintah. Apabila pemerintah telah menetapkan suatu kebijakan untuk membeli barang dan jasa, penegeluaran pemerintah mencerminkan biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk melaksanakan kebijakan tersebut. Pada tahap awal perkembangan ekonomi diperlukan pengeluaran negara yang besar untuk investasi pemerintah, utamanya untuk menyediakan infrastruktur seperti sarana jalan, kesehatan dan pendidikan. Pada tahap menengah pembangunan ekonomi, investasi tetap diperlukan untuk pertumbuhan ekonomi, namun diharapkan investasi sektor swasta sudah mulai berkembang. Pada tahap lanjut pembangunan ekonomi, pengeluaran pemerintah tetap diperlukan, utamanya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, misalnya peningkatan pendidikan, kesehatan dan jaminan sosial. Perekonomian suatu Negara juga tidak dapat berdiri sendiri tetapi berhubungan dengan kerjasama dengan Negara lain. Terjadinya pergeseran siklus dan tatanan ekonomi global merupakan tantangan yang dihadapi perekonomian global. Tantangan tersebut tidaklah ringan, mengingat pergeseran siklus terjadi di tiga area berbeda yang saling terkait satu sama lain. Pergeseran pertama ialah beralihnya lanskap ekonomi dunia yang ditandai oleh meningkatnya pertumbuhan ekonomi negara maju dan menurunnya pertumbuhan ekonomi negara berkembang. Pergeseran kedua terkait dengan berlanjutnya tren penurunan harga komoditas dunia. Pergeseran yang terakhir adalah mulai beralihnya arus modal dunia, dipengaruhi berakhirnya era kebijakan moneter longgar di AS. (Bank Indonesia. 2013). Kondisi perekonomian global yang masih mengalami tekanan akibat krisis menghadapkan perekonomian Indonesia pada sejumlah tantangan yang tidak ringan selama tahun 2009. Tantangan itu cukup mengemuka pada awal tahun 2009, sebagai akibat masih kuatnya dampak krisis perekonomian global yang mencapai puncaknya pada triwulan IV 2008. Ketidakpastian yang terkait dengan sampai seberapa dalam kontraksi global dan sampai seberapa cepat pemulihan ekonomi global akan terjadi, bukan saja menyebabkan tingginya risiko di sektor keuangan, tetapi juga berdampak negatif pada kegiatan ekonomi di sektor riil domestik. Kondisi tersebut mengakibatkan stabilitas moneter dan sistem keuangan pada triwulan I 2009 masih mengalami tekanan berat, sementara pertumbuhan ekonomi juga dalam tren menurun akibat kontraksi ekspor barang dan jasa yang cukup dalam. Kondisi tersebut Volume 1 Nomor 1 Edisi Februari 2016 ISSN : 2540-816X JOURNAL Ecoment Global 23 menurunkan kepercayaan pelaku ekonomi di sektor keuangan dan sektor riil, serta berpotensi menurunkan berbagai kinerja positif yang telah dicapai dalam beberapa tahun sebelumnya. (Badan Pusat Statistik, 2014) Sehubungan dengan hal diatas, maka perlu dilakukan suatu pengkajian ilmiah terhadap faktor - faktor yang mempengaruhi Produk Domestik Regional Bruto, Inflasi dan net ekspor provinsi di Indonesia. Dalam hal ini faktor - faktor yang dianalisis adalah Ekspor dan impor, Pengeluaran Pemerintah, Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi dan kurva penawaran agregat adalah titik keseimbangan ekonomi (equilibrium) yang menghasilkan suatu jumlah output agregat (PDB) tertentu dengan tingkat harga umum tertentu. Output agregat yang dihasilkan selanjutnya membentuk pendapatan nasional. Teori - teori pertumbuhan ekonomi yang berkembang antara lain:
1. Teori Pertumbuhan Klasik
2. TeoriPertumbuhanHarrod-Domar
3. TeoriPertumbuhanEkonomiSolow–Swan

Teori Konsumsi dari John Maynard Keynes Keynes mengedepankan variabel utama dalam analisisnya yaitu konsumsi dipengaruhi oleh tingkat pendapatan C = f (Y). Keynes mengajukan 3 asumsi pokok secara makro dalamt eorinya yaitu:
 1) Kecenderungan mengkonsumsi marginal (marginal propensity toconsume) i jumlah yang dikonsumsi dalam setiap tambahan pendapatan adalah antaranol dan satu.
2) Keynes menyatakan bahwa kecenderungan mengkonsumsi rata-rata (average prospensity toconsume), turunketika pendapatan naik.
 3) Keynes berpendapat bahwa pendapatan merupakan determinan konsumsi yang penting dan tingkat bunga tidak memiliki peranan penting. Sehingga secara garis besar terori konsumsi Keynes menyatakan bahwa, (besarkecil) konsumsi masyarakat sangat dipengaruhi oleh besarnya pendapatan. Sedangkan unsur tabungan tidak terlalu berdampak terhadap perubahan jumlah barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.


Pengertian Pertumbuhan Ekonomi

Secara umum, pertumbuhan ekonomi didefenisikan sebagai peningkatan kemampuan dari suatu perekonomian dalam memproduksi barang-barang dan jasa-jasa. Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu indikator yang amat penting dalam melakukan analisis tentang pembangunan ekonomi yang terjadi pada suatu negara. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas perekomian akan menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat pada suatu periode tertentu. Karena pada dasarnya aktivitas perekonomian adalah suatu proses penggunaan faktor - faktor produksi untuk menghasilkan output, maka proses ini pada gilirannya akan menghasilkan suatu aliran balas jasa terhadap faktor produksi yang dimiliki oleh masyarakat. Dengan adanya pertumbuhan ekonomi maka diharapkan pendapatan masyarakat sebagai pemilik faktor produksi juga akan meningkat. Pertumbuhan ekonomi bisa bersumber dari pertumbuhan pada sisi permintaan agregat dan sisi penawaran agregat. Seperti yang diilustrasikan pada gambar 1, titik perpotongan antara kurva permintaan agregat dan kurva penawaran agregat adalah titik keseimbangan ekonomi (equilibrium) yang menghasilkan suatu jumlah output agregat (PDB) tertentu dengan tingkat harga umum tertentu. Output agregat yang dihasilkan selanjutnya membentuk pendapatan nasional. Teori - teori pertumbuhan ekonomi yang berkembang antara lain:
1. Teori Pertumbuhan Klasik
2. TeoriPertumbuhanHarrod-Domar
3. TeoriPertumbuhanEkonomiSolow–Swan
Teori Pengeluaran Pemerintah Teorimikro mengenai pengeluaran pemerintah menyangkut faktor– faktor yang mempengaruhi timbulnya permintaan akan barang – barang publik dan faktor – faktor yang mempengaruhi tersedianya barang publik. Interaksi antara permintaan dan penawaran barang publik menentukan jumlah barang publik yang disediakan yang selanjutnya akan menimbulkan permintaan terhadap barang lain. Beberapa faktor yang mempengaruhi pengeluaran pemerintah yaitu:

 a. Perubahan permintaan akan barang publik.
b. Perubahan dari aktivitas pemerintah dalam menghasilkan barang publik dan perubahan dari kombinasi faktor produksi yang digunakan.
 c. Perubahan kualitas barang publik.
 d. Perubahan harga faktor– faktor produksi.

Teori Konsumsi dari John Maynard Keynes Keynes mengedepankan variabel utama dalam analisisnya yaitu konsumsi dipengaruhi oleh tingkat pendapatan C = f (Y). Keynes mengajukan 3 asumsi pokok secara makro dalamt eorinya yaitu:

1) Kecenderungan mengkonsumsi marginal (marginal propensity toconsume) ialah jumlah yang dikonsumsi dalam setiap tambahan pendapatan adalah antaranol dan satu.
2) Keynes menyatakan bahwa kecenderungan mengkonsumsi rata-rata (average prospensity toconsume), turunketika pendapatan naik.
3) Keynes berpendapat bahwa pendapatan merupakan determinan konsumsi yang penting dan tingkat bunga tidak memiliki peranan penting. Sehingga secara garis besar terori konsumsi Keynes menyatakan bahwa, (besarkecil) konsumsi masyarakat sangat dipengaruhi oleh besarnya pendapatan. Sedangkan unsur tabungan tidak terlalu berdampak terhadap perubahan jumlah barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. 

Teori Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Permanen (Milton Friedman) Teori ini disampaikan oleh Milton Friedman tahun 1957. Menurut teori ini pendapatan masyarakat dapat diklasifikasikan menjadi 2 yaitu pendapatan permanen (permanentincome) dan pendapatan sementara (transitory income) dengan definisi sebagai berikut:

1) Pendapatan permanen ialah pendapatan yang orang harapkan untuk terus bertahan dimasa depan (Mankiw, 2000).
2) Pendapatan sementara ialah pendapatan yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya. (Guritno dan Algifari, 1998). Kesimpulannya, teori konsumsi dari Milton Friedman berpikiran bahwa pendapatan permanen akan mempengaruhi besarnya jumlah kecenderungan mengkonsumsi rata - rata masyarakat.

 Kecederungan mengkonsumsi tersebut bisa saja mengarah pada jenis makanan atau non makanan bergantung pada besar-kecilnya jumlah pendapatan yang diterima oleh masyarakat. Teori Konsumsi dengan Hipotesis Daur/Siklus Hidup Teori konsumsi dengan Hipotesis Siklus Hidup disampaikan dikemukaanoleh Franco Modigliani. Modigliani menyatakan bahwa faktor sosial ekonomi seseorang sangat mempengaruhi pola konsumsi seseorang tersebu (Guritnodan Algifari, 1998). Modigliani menekankan bahwa pendapatan bervariasi dan tabungan secara sistematis yang terjadi selama kehidupan seseorang menjadi kankonsumen mampu menggerakkan pendapatannya ketika dalam kondisi tinggi ke kondisi yang rendah (Mankiw, 2007). Sehingga teori konsumsi dengan Hipotesis Daur Hidup dari Franco Modigliani berkesimpulan bahwa, konsumsi seseorang sangat dipengaruhi oleh kekayaan atau besarnya pendapatan yang diperoleh. Kecenderungan mengkonsumsi nilainya berdasarkan pada umur, selera dan tingkat bunga yang dimiliki oleh konsumen itu sendi
Teori Inflasi Tingkat harga dalam definisi inflasi, secara konseptual adalah tingkat harga ratarata tertimbang dari barang-barang dan jasajasa dalam perekonomian. Dalam prakteknya, tingkat harga tersebut diukur dengan indek harga, baik indek harga konsumen (IHK) mau pun indek harga produsen (IHP). Lawan dari inflasi adalah deflasi, yaitu penurunan tingkat harga umum (Samuelson dan Nordhaus, 1997:306) Menurut Boediono (1994:155) definisi singkat dari inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi. Syarat adanya kecenderungan menaikyang terus menerus juga perlu digaris – bawahi
Kenaikan harga-harga karena, misalnya, musiman, menjelang hariraya, bencana, dan sebagainya, yang sifatnya hanya sementara tidak disebut inflasi. Jenis - jenis inflasi dapat dikelompokkan berdasarkan “parah-tidaknya” inflasi dan berdasarkan penyebab awal terjadinya inflasi. Berdasarkan “parah-tidaknya”, inflasi dapat dikelompokkan menjadi (Boediono, 1994:156):

 1. Inflasi ringan (dibawah 10% setahun)
 2. Inflasi sedang (antara10 –30% setahun)
3. Inflasi berat (antara 30–100% setahun)
4. Hiperinflasi (di atas 100% setahun). Dalam hal ini Samuelson dan Nordhaus (1997:793), mengelompokkan inflasi menjadi tiga jenis, yaitu: inflasi moderat (moderat inflation), inflasi ganas (galloping inflation), dan hiperinflasi. Berdasarkan penyebab awal terjadinya inflasi, inflasi dapat dikelompokkan menjadi (Boediono,1994:156)

1. Inflasi yang timbul karena permintaan masyarakat akan berbagai barang terlalu kuat. Inflasi semacam ini disebut demand pullinflation.
2. Inflasi yang timbul karena kenaikan biaya produksi. Ini disebut cost pushinflation. Kedua jenis inflasi ini jarang sekali dijumpai dalam praktek dalam bentuk yang murni. Pada umumnya, inflasi yang terjadi diberbagai negara di dunia adalah kombinasi dari kedua jenis inflasi tersebut, dan sering kali keduanya saling memperkuat satu sama lain. 

Teori Perdagangan Internasional Dalam perekonomian terbuka, terdapat terdapat dua tingkat harga umum yaitu harga umum yang berlaku didalam negeri dan tingkat harga yang berlaku diluar negeri. Pengaruh dari adanya harga luar negeri ini terhadap proses ekonomi makro khususnya terletak pada timbulnya kemungkinan bagi pelaku-pelaku ekonomi untuk memilih apakah mereka akan membeli atau menjual dipasar luar negeri atau pasar dalam negeri. Keputusan semacam ini jelas mempunyai pengaruh yang penting terhadap posisi keseimbangan pasar barang dalam negeri dan pasar uang dalam negeri. Secara umum bisa dikatakan bahwa bila harga dipasar dalam negeri meningkat lebih cepat dari pada harga diluar negeri, maka pembeli dalam negeri akan cenderung untuk membeli dari pasar luar negeri (jadi impor cenderumg meningkat) sedangkan para penjual dalam negeri akan cenderung untuk menjual barangnya dipasar dalam negeri yang menyebabkan ekspor ke luar negeri berkurang (Boediono, 2001). Dengan mengunakan asumsi tersebut diperoleh kesimpulan bahwa dengan fungsi produksi yang sama dan bawaan faktor yang berbeda antar negara. Suatu negara cenderung untuk mengekspor komoditas yang relatif intensif dalam mengunakan fungsi yang relatif banyak dimiliki, dan dalam waktu yang bersamaan negara tersebut akan mengimpor komoditas yang produktifnya memerlukan sumberdaya yang relatif langka dan mahal (Salvatore, 1997). Adanya unsur keterbatasan atau perbedaan ketersediaan sumber daya yang dimiliki setiap negara, merupakan faktor utama dari munculnya spesialisasi. prinsip ini merupakandasar berkembangnya ekonomi perdagangan dan keuangan internasional. Kondisi tersebut menggiring setiap negara melakukan ekspor dan impor. Ekspor adalah suatu kegiatan ekonomi menjual produk dalam negeri ke pasar luar negeri. Impor adalah suatu kegiatan membeli produk luar negeri untuk keperluan atau di pasarkan dalam negeri. Ekspor dan Impor sangat penting untuk membentuk dan mengendalikan neraca perdagangan disuatu negara. Impor harus dibiayai dengan nilai  yang sama dari ekspor untuk mempertahankan ekuilibrium neraca perdagangan. Oleh karena itu negara harus melakukan ekporuntuk membiayai impor yang dibayarkan dengan mata uang asing sehingga dapat terjadi surplus neraca perdagangan. Kegiatan ekspor-impor yang dilakukan suatu negara dengan negara lain dalam perdagangan internasional akan memberikan manfaat bagi suatu negara. kelangsungan ekspor dilatarbelakangi oleh excess supply oleh satu pihak dan excessdemand dipihaklain. Konsep excesssupply terjadi disebabkan kecenderungan tingkat harga suatu barang mengalami kenaikan di atas harga keseimbangan yang berlaku dipasar, baik pasar domestik maupunin ternasional. Sedangkan excessdemand justru sebaliknya yaitu kecenderungan tingkat harga dibawah harga keseimbangan. Besarnya ekspor suatu negara bergantung terhadap permintaan impor negara lain sehingga mencapai keseimbangan perdagangan internasional yang disebut balancedof international trade. (Nasution, 2008).

 Teori Investasi Investasidalam ekonomimakro, juga dapat dibedakan atas investasi otonom (otonomous investment) dan investasi terpengaruh (induced investment). Investasi otonom adalah investasi yang tidak dipengaruhi oleh pendapatan nasional, artinya tinggi rendahnya pendapatan nasional tidak menentukan jumlah investasi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan. Jenis investasi ini umumnya dilakukan oleh pemerintah dengan maksud sebagai landasan pertumbuhan ekonomi berikutnya, misalnya investasi untuk pembuatanjalan, jembatan dan infrastruktur lainnya. Sedangkan investasi yang terpengaruh adalah investasi yang dipengaruhi oleh pendapatan nasional, artinya pendapatan nasional yang tinggiakan memperbesar pendapatan masyarakat dan selanjutnya pendapatan masyarakat yang tinggi tersebut akan memperbesar permintaan terhadap barang-barang dan jasa-jasa. Maka keuntungan perusahaan akan bertambah tinggi dan ini akan mendorong dilakukannya lebih banyak investasi. Kurs Rupiah Nilai tukar mata uang (exchangerate) atau sering disebutkurs merupakan harga mata uang terhadap mata uang lainnya. Kurs mata uang adalah perbandingan nilai antar mata uang yang menunjukkan harga suatu mata uang jika dibandingkan dengan mata uang lain. Menurut Kuncoro (1997), ada beberapa sistem kurs mata uang yang berlaku di perekonomian internasional, yaitu:

 a. Sistem kurs mengambang (floating exchangerate) Sistem kurs ini ditentukan oleh mekanisme pasar dengan atau tanpa upaya stabilisas ioleh otoritas moneter. Dimana dalam sistem mengambang terdapat dua sistem yaitu sistem mengambang bebasdan sistem mengambang yang terkendali.

b. Sistem kurs tertambat (peggedex changerate). Dalam sistem ini, suatu negara mengkaitkan nilai tukar mata uangnya dengan suatu mata uang negara lain atau sekelompok mata uang, yang biasanya merupakan mata uang negara partner dagang yang utama “menambatkan“ kesuatu mata uang berarti nilai tukar mata uang tersebut bergerak mengikuti mata uang yangmenjadi tambatannya. Jadi sebenarnya mata uang yang ditambatkan tidak mengalami fluktuasi tetapihanya berfluktuasi terhadap mata uang lain mengikuti mata uang yang menjadi tambatannya.

 c. Sistem kurs tertambat merangkak (crawlingpegs). Dalam sistem ini, suatu negara melakukan sedikit perubahan dalam nilai tukar mata uangnya secara periodik dengan tujuan untuk bergerak menuju nilai tertentu pada rentang waktu tertentu. Keuntungan utama sistem ini adalah suatu negara dapat mengatur penyesuaian kursnya dalam periode yang lebih lama dibanding sistem kurs tertambat. Oleh karena itu, sistem ini dapat menghindar ikejutan- kejutan terhadap perekonomian akibat revaluasi atau devaluasi yang tiba-tiba dan tajam.

d. Sistem sekeranjang mata uang(basket of currencies). Banyak negara terutama negara sedang berkemban menetapkan nilai tukar mata uangnya berdasarkan sekeranjang mata uang. Keuntungan dari sistem ini adalah menawarkan stabilitas mata uang suatu Negara karena pergerakan mata uang disebar dalam sekeranjang mata uang. Seleksi mata uang yang dimasukkan dalam “keranjang“ umumnya ditentukan oleh peranannya dalam membiayai perdagangan Negara tertentu. Mata uang yang berlainan diberi bobot yang berbeda tergantung peran relatifnya terhadap negara tersebut. Jadi sekeranjang mata uang bagi suatu negara dapat terdiri dari beberapa mata uang yang berbeda dengan bobot yang berbeda.

 e. Sistem kurs tetap (fixedex changerate). Dalam sistem ini, suatu negara mengumumkan suatu kurs tertentu atas nama uangnya dan menjaga kurs ini dengan menyetujui untuk menjual atau membeli valas dalam jumlah tidak terbatas pada kurs tersebut. Kurs biasanya tetap atau diperbolehkan berfluktuasi dalam batas yang sangat sempit. Dalam sistem mata uang mengambang bebas (free float), apa bila harga suatu mata uang menjadi semakin mahal terhadap mata uang lain, maka mata uang itu disebut berapresiasi. Sebaliknya jika harga suatu mata uang turun terhadap mata uang lain, mata uang itu disebut terdepresiasi. Kurs mata uang asing mengalami perubahan nilai yang terus menerus dan relatif tidak stabil. Perubahan nilai ini dapat terjadi karena adanya perubahan permintaan dan penawaran atas suatu nilai mata uang asing pada masing-masing pasar pertukaran valuta dari waktu ke waktu. Sedangkan perubahan permintaan dan penawaran itu sendiri di pengaruhi oleh adanya kenaikan relatif tingkat bunga baik secara bersamasama maupun sendiri-sendiri terhadap negara. Penelitian Terdahulu Hasil penelitian I Made Yudisthira dan I Gede Sujana Budhiasa (2012) yang berjudul : Analisis Pengaruh Konsumsi, Investasi, dan Inflasi Terhadap Produk Domestik Bruto di Indonesia Tahun 2000- 2012 menunjukkan bahwa Variabel konsumsi dan investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sedangkan variabel inflasi berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Besarnya R-squared pada hasil estimasi model PDB adalah sebesar 0.986631, yang berarti bahwa 98.6631 persen perubahan nilai PDB di Indonesia secara bersama-sama mampu dijelaskan oleh variabel independen yang digunakan dalam model, yaitu investasi, konsumsi, dan tingkat inflasi. Sedangkan sisanya sebesar 1.3369 persen dapat dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model, seperti tingkat ISSN : 2540-816X Volume 1 Nomor 1 Edisi Februari 2016 28 Aris Munandar, SE., M.Si ekspor, pengeluaran pemerintah,dan lainlain. Adrian Sutawijaya dan Zulfahmi (2012) meneliti dengan judul: Pengaruh Faktor-Faktor Ekonomi Terhadap Inflasi di Indonesia, hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat suku bunga, jumlahuang beredar, investasi, dan nilai tukar secara simultan mempengaruhi inflasi di Indonesia. Tingkat bunga memiliki pengaruh positif 1,289%. Uang beredar akan memiliki pengaruh positif terhadap inflasi 0,001%. Investasi berdampak negatif inflasi - ,0001802%. Kurs memiliki dampak positif pada inflasi 0,00427%. Sri Endang Rahayu (2011) meneliti dengan judul: Analisis Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Sumatera Utara, hasil penelitian menunjukkan pengeluaran aparatur daerah mempunyai pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara dengan besar koefisien 35,697. Artinya apabila pengeluaran aparatur daerah naik 1%, ceteris paribus maka pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara naik sebesar 35,697%. Variabel X2 (pelayanan publik) mempunyai pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi diSumatera Utara dengan besar koefisien 51,062. Artinya apabila pelayanan publik naik 1%, ceterisparibus maka pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara naik sebesar 51,062%. Primawan Wisda Nugroho, Maruto Umar Basuki (2012) meneliti dengan judul: Analisis Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Inflasi Di Indonesia Periode 2000.1-2011.4, hasil penelitian menunjukkan Variabel produk domestik bruto (PDB) memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap inflasi dengan nilai koefisien sebesar 0,011, artinya apabila variable independen lainnya konstan, maka setiap kenaikan PDB sebesar satu rupiah akan menaikkan inflasi sebesar 0,011.Variabel suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI), memiliki hubungan positifdan signifikan terhadap inflasi dengan nilai koefisien sebesar 1,08, artinya apabila variabel independen lainnya konstan, maka setiap kenaikan SBI sebesar satu rupiah akan menaikkan inflasi sebesar 1,08.Variabel jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) memiliki hubungan negatif dan signifikan terhadap inflasi dengan nilai koefisien sebesar 0,001, artinya apabila variabel independen lainnya konstan, maka setiap kenaikan jumlah uang beredar (M2) sebesar satu rupiah akan menurunkan Inflasi sebesar 0,001.Variabelkurs memiliki hubungan positif dan tidak signifikan terhadap inflasi dengan nilai koefisien sebesar 0.001, artinya apabila variabel independen lainnya konstan, maka setiap kenaikan tingkat kurs sebesar saturupiah akan menaikkan Inflasi sebesar 0.001

KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penelitian mengenai Analisis Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Net Ekspor Provinsi di Indonesia dapat disimpulkan sebagai berikut:
 Faktor – faktor yang mempengaruhi Inflasi Provinsi di Indonesia selama tahun pengamatan 2009 – 2013 adalah rata – rata konsumsi perkapita sebulan provinsi dan Impor provinsi. Hasil analisis secara simultan rata – rata konsumsi perkapita sebulan provinsi dan impor provinsi berpengaruh positif signifikan terhadap Inflasi Provinsi di Indonesia. Secara parsial rata – rata konsumsi perkapita sebulan provinsi berpengaruh positif signifikan terhadap Inflasi Provinsi di Indonesia atau dengan kata lain apabila ada peningkatan rata – rata konsumsi perkapita sebulan provinsi maka akan berpengaruh terhadap peningkatan Inflasi Provinsi di Indonesia. Impor Provinsi berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap Inflasi Provinsi di Indonesia atau dengan kata lain kenaikan impor Provinsi belum tentu akan menaikkan Inflasi Provinsi di Indonesia.
Disarankan research selanjutnya menjelkaskan lagi secara terperinci mengenai inflasi yang terjadi di indonesia dan faktor- faktornya yang mempengaruhinya.

DAFTAR PUSTAKA
 Arsyad, Lincoln. 1999. Ekonomi Pembangunan Edisi Kedua. STIE YKPN. Yogjakarta.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), 2013,
 Pembangunan Daerah Dalam Angka 2013.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), 2014,
Pembangunan Daerah Dalam Angka 2014.
 Badan Pusat Statistik, 2014. Produk Domestik Bruto Menurut Penggunaan 2008-2013.
 Bank Indonesia. 2013. Laporan Perekonomian Indonesia 2013.
Boediono, 2001. Indonesia Menghadapi Ekonomi Global. BPFE Yogyakarta 2001.
 Boediono, 2005. Teori Pertumbuhan Ekonomi. Yogyakarta: BPFE
 Boediono. 1994.Teori Ekonomi Makro. Edisi Keempat. BPFE UGM. Yogyakarta.

Ernita, Dewi. Amar, Syamsul dan Sofyan, Efrizal. 2013. Analisis Pertumbuhan Ekonomi, Investasi dan Konsumsi di Indonesia. Jurnal Kajian Ekonomi, Januari 2013, Vol 1, No. 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar