Senin, 17 April 2017

ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT PENGUNGKAPAN LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH PROVINSI DI INDONESIA


Jurnal Bisnis dan Ekonomi (JBE0
ISSN: 1412-312625



ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT PENGUNGKAPAN LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH PROVINSI DI INDONESIA



ABSTRAKSI


Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengungkapan dalam laporan keuangan dari pemerintah provinsi di Indonesia. Subjek dalam penelitian ini adalah ringkasan dari Laporan Keuangan Pemeriksaan Hasil Pemerintah Provinsi di Indonesia yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Dalam penelitian ini, sampel termasuk 30 provinsi dengan periode pelaporan 3 tahun. Sampel dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling. Alat analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, hal itu menunjukkan bahwa belanja modal dan jumlah penduduk memberikan efek positif yang signifikan pada tingkat pengungkapan dalam laporan keuangan dari pemerintah provinsi di Indonesia. Kata Kunci: tingkat pengungkapan, tingkat ketergantungan, lokal-generated pendapatan, belanja modal, penduduk, temuan audit, akuntansi pemerintahan


Pendapatan Asli Daerah (PAD)
 PAD adalah semua penerimaan yang diperoleh daerah dari sumber-sumber dalam wailayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan peraturan daerah yang seusuai dengan peraturan perundangan yang berlaku (Halim, 2004) Menurut Undang-Undang No 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, PAD terdiri dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.
 Belanja Modal Peraturan Pemerintah No.71 tahun 2010 menjelaskan belanja modal merupakan belanja PEMDA yang manfaatnya melebihi 1 tahun anggaran dan akan menambah aset atau kekayaan daerah dan selanjutnya akan menambah belanja yang bersifat rutin seperti biaya pemeliharaan pada kelompok belanja administrasi umum. Belanja Modal dapat dikategorikan menjadi 5 (lima) kategori utama yaitu Belanja Modal Tanah, Belanja Modal Peralatan dan Mesin, Belanja Modal Gedung dan Bangunan, Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan, dan Belanja Modal Fisik Lainnya. Jumlah nilai belanja yang dikapitalisasi menjadi aset tetap adalah semua belanja yang dikeluarkan sampai dengan aset tersebut siap digunakan atau biaya perolehan (Zulfikar, 2013). Vol. 22 No. 1 Jurnal Bisnis dan Ekonomi 27 Temuan Audit Undang-undang No. 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara menyatakan bahwa pemeriksaan adalah proses identifikasi masalah, analisis, dan evaluasi yang dilakuakan secara independen, obyektif, dan profesional berdasarkan standar pemeriksaan untuk menilai kebenaran, kecermatan, kreadibilitas dan keandalan informasi mengenai pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara. Pemeriksaan keuangan negara dilakukan oleh BPK dengan memeriksa keuangan, kinerja, serta pemeriksaan lain dengan tujuan tertentu. Hasil dari pemeriksaan BPK tersebut berupa temuan, opini, kesimpulan, serta dapat pula berbentuk rekomendasi.

Temuan audit
 merupakan kasus-kasus yang ditemukan oleh BPK pada laporan keuangan berupa kerancuan dan ketidaksesuaian dengan realisasi laporan serta terindifikasi sebagai suatu pelanggaran. Menurut ISO 9000, temuan audit adalah hasil evaluasi dari bukti audit yang dikumpulkan terhadap kriteria audit. Temuan audit dapat mengindikasikan kesesuaian ataupun ketidaksesuaian dengan kriteria audit atau mendapatkan peluang perbaikan. Ketidaksesuaian tersebut merupakan penyimpangan dengan adanya bukti obyektif atas kriteria audit yang ditetapkan. Auditor harus menginvestigasi secara tepat untuk menetukan kriteria audit yang dilanggar dan menentukan rekomendasi tindakan perbaikan (Zulfikar, 2013)

 Pengembangan Hipotesis Tingkat Ketergantungan
 Liestiani (2008), Martani dan Lestari (2010), Puspita (2011) dan Hilmi (2011) menemukan bahwa terdapat hubungan signifikan antara tingkat ketergantungan terhadap tingkat pengungkapan. Semakin tinggi DAU yang diterima pemerintah daerah, menunjukkan tingkat ketergantungan yang besar terhadap sumber dana lain untuk membiayai aparaturnya. Pemerintah daerah yang memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap sumber dana Pemerintah pusat maka daerah tersebut memiliki tekanan untuk mengungkapkan informasi lebih banyak. H1: Tingkat ketergantungan berpengaruh positif terhadap tingkat Pengungkapan

 Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Amalina (2014) menemukan bahwa PAD berpengaruh signifikan terhadap kinerja pemerintah, sementara itu penelitian Puspita (2011) menyebutkan bahwa ratio PAD tidak berpengangaruh terhadap tingkat pengungkapan. Semakin baik kinerja pemerintah semakin baik pula tingkat pengungkapan yang dilakukan. PAD merupakan salah satu pengukuran dari kekayaan suatu daerah. Semakin tinggi tingkat kekayaan daerah maka menunjukan semakin baik pula kinerja daerah tersebut. Maka semakin besar dorongan untuk memberikan informasi yang dibutuhkan stakeholders. H2: Rasio PAD berpengaruh positif terhadap tingkat pengungkapan

Belanja Modal
 Menurut UU No. 32 Tahun 2004 Pasal 167 ayat 1, belanja daerah digunakan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Hal tersebut diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan, fasilitas sosial, fasilitas umum yang layak, dan mengembangkan sistem jaminan sosial. Semakin tinggi belanja, pemerintah seharusnya memberikan pelayanan yang lebih baik dan berkualitas kepada masyarakatnya. Merujuk kepada hal ini, seharusnya semakin tinggi tingkat pelayanan yang diberikan, semakin tinggi keinginan pemerintah untuk mengungkapkan informasi laporan keuangannya. Mustikarini dan Fitriasari (2012), Zulfikar (2013) menemukan bahwa belanja modal berpengaruh signifikan terhadap kinerja pemerintah. Semakin baik kinerja pemerintah maka semakin baik pula pengungkapan yang dilakukan. H3: Belanja modal berpengaruh positif terhadap tingkat pengungkapan.

 Jumlah Penduduk Liestiani (2008),
 Hilmi (2011), Puspita (2011) menemukan bahwa jumlah penduduk 28 Ririn Hendriyani dan Afrizal Tahar Jurnal Bisnis dan Ekonomi berkolerasi positif terhadap tingkat pengungkapan. Semakin besar jumlah penduduk maka semakin besar dorongan dari masyarakat untuk meminta pengungkapan yang lebih besar dalam laporan keuangan pemerintah.
 Jumlah penduduk merupakan proksi dari kompleksitas pemerintah. Semakin kompleks pemerintahan maka semakin besar pengungkapan yang harus mereka lakukan. H4: Jumlah penduduk berpengaruh positif terhadap tingkat pengungkapan.


PENUTUP & KESIMPULAN 

Pendapatan Asli Daerah tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi. Hal ini menunjukan bahwa tingginya tingkat kekayaan suatu daerah tidak akan secara otomatis melakukan pengungkapan informasi yang tinggi pula. Belanja modal memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi. Hal ini menunjukan semakin tinggi belanja yang dikeluarkan maka semakin banyak pula bentuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat sehingga menimbulkan dorongan pengungkapan yang tinggi dari masyarakat kepada pemerintah sebagai wujud pengabdian. Jumlah penduduk memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi. Hal ini menunjukan bahwa jumlah penduduk merupakan proksi dari tingkat kompleksitas pemerintah. Semakin tinggi jumlah penduduk maka semakin kompleks pemerintahan tersebut
Temuan audit tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi. Hal ini disebabkan karena BPK akan memberikan saran kepada pemerintah provinsi untuk memperbaiki temuan-temuan audit yang mereka temukan, dengan adanya perbaikan maka opini yang diberikan akan mendapatkan opini wajar. Sehingga jumlah temuan audit tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan.
Berdasarkan kesimpulan di atas, adapun saran-saran yang dapat penulis berikan dan direkomendasikan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah penelitian berikutnya diharapkan menggunakan rentang waktu yang lebih panjang agar hasil penelitian dapat lebih mencerminkan kondisi yang sesungguhnya. Penelitian selanjutnya diharapkan tidak hanya meneliti pengungkapan wajib melainkan ditambah dengan meneliti pengungkapan suka rela. Penelitian selanjutnya diharapkan menambahkan variabel kontrol sebagai alat monitoring pemerintah provinsi dalam melakukan pengungkapan


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Halim (2004), Akuntansi Keuangan Daerah, Salemba Empat,Jakarta
Adisasmita Rahardjo (2010) “Manajemen Pemerintah Daerah” Makasar: Graha Ilmu
Amalia Aun Sauma (2014) “Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah dan Temuan Audit BPK Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota Jawa, Sumatra dan Kalimantan Tahun Anggaran 2011” Skripsi Sarjana. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Damang (2011) “Pendapatan Asli Daerah” http://www.negarahukum.com diakses tanggal 14 November 2011 Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan Republik Indonesia, www.perbendaharaan.go.id Evans, J, Patton, J 1987. “Signalling and Monitoring in Public Sector Accounting Journal of Accounting Research” 25 (Supplement) 130-15
Sony Lazio (2012) “Pengertian dan Sumber – Sumber Pendapatan Asli Daerah” diakses tanggal 23 Juni 2012
 Standar Akuntansi Pemerintah, http://www.ksap.org. Diakses 18 September 2007


Jumat, 17 Maret 2017

ANALISIS PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO, INFLASI DAN NET EKSPOR PROVINSI DI INDONESIA


ANALISIS PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO, INFLASI DAN NET EKSPOR PROVINSI DI INDONESIA


ISSN : 2540-816X Volume 1 Nomor 1 Edisi Februari 2016 26
Oleh: Aris Munandar, SE., M.Si


PENDAHULUAN
Pada dasarnya, pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai suatu proses pertumbuhan output perkapita dalam jangka panjang. Hal ini berarti, bahwa dalam jangka panjang kesejahteraan tercermin pada peningkatan output perkapita yang sekaligus memberikan banyak alternatif dalam mengkonsumsi barang dan jasa, serta diikuti oleh daya beli masyarakat yang semangkin meningkat. Pertumbuhan ekonomi jugabersangkut paut dengan proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Sehingga dapat dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi menyangkut perkembangan yang berdimensi tunggal dan diukur dengan meningkatnya hasil produksi dan pendapatan. (Boediono,2005). Selama periode tahun 2009 – 2013, pertumbuhan ekonomi Indonesia tertinggi terjadi pada tahun 2011 sebesar 6,49%. Kenaikan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini diduga diakibatkan oleh pengaruh dari faktor - faktor yang mempengaruhinya diantaranya adalah peningkatan konsumsi, investasi dan pengeluaran pemerintah. Disamping itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia terendah terjadi pada tahun 2009 sebesar 5,00%. Rendahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini diduga disebabkan oleh turunnya konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah (Badan Pusat Statistik, 2013). Krisis ekonomi global yang melanda sebagian besar negara di dunia termasuk Indonesia, memperlihatkan bahwa keseimbangan dalam perekonomian suatu negara tidak bisa dengan hanya mengandalkan sektor swasta. Kontribusi sektor pemerintah juga sangat dihandalkan. Terutama faktor pengeluaran pemerintah, investasi pemerintah yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan net ekspor yang dapat meningkatkan pendapatan nasional. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi maka Pemerintah juga akan melakukan peningkatan pengeluarannya. Pengeluaran pemerintah mencerminkan kebijakan pemerintah. Apabila pemerintah telah menetapkan suatu kebijakan untuk membeli barang dan jasa, penegeluaran pemerintah mencerminkan biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk melaksanakan kebijakan tersebut. Pada tahap awal perkembangan ekonomi diperlukan pengeluaran negara yang besar untuk investasi pemerintah, utamanya untuk menyediakan infrastruktur seperti sarana jalan, kesehatan dan pendidikan. Pada tahap menengah pembangunan ekonomi, investasi tetap diperlukan untuk pertumbuhan ekonomi, namun diharapkan investasi sektor swasta sudah mulai berkembang. Pada tahap lanjut pembangunan ekonomi, pengeluaran pemerintah tetap diperlukan, utamanya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, misalnya peningkatan pendidikan, kesehatan dan jaminan sosial. Perekonomian suatu Negara juga tidak dapat berdiri sendiri tetapi berhubungan dengan kerjasama dengan Negara lain. Terjadinya pergeseran siklus dan tatanan ekonomi global merupakan tantangan yang dihadapi perekonomian global. Tantangan tersebut tidaklah ringan, mengingat pergeseran siklus terjadi di tiga area berbeda yang saling terkait satu sama lain. Pergeseran pertama ialah beralihnya lanskap ekonomi dunia yang ditandai oleh meningkatnya pertumbuhan ekonomi negara maju dan menurunnya pertumbuhan ekonomi negara berkembang. Pergeseran kedua terkait dengan berlanjutnya tren penurunan harga komoditas dunia. Pergeseran yang terakhir adalah mulai beralihnya arus modal dunia, dipengaruhi berakhirnya era kebijakan moneter longgar di AS. (Bank Indonesia. 2013). Kondisi perekonomian global yang masih mengalami tekanan akibat krisis menghadapkan perekonomian Indonesia pada sejumlah tantangan yang tidak ringan selama tahun 2009. Tantangan itu cukup mengemuka pada awal tahun 2009, sebagai akibat masih kuatnya dampak krisis perekonomian global yang mencapai puncaknya pada triwulan IV 2008. Ketidakpastian yang terkait dengan sampai seberapa dalam kontraksi global dan sampai seberapa cepat pemulihan ekonomi global akan terjadi, bukan saja menyebabkan tingginya risiko di sektor keuangan, tetapi juga berdampak negatif pada kegiatan ekonomi di sektor riil domestik. Kondisi tersebut mengakibatkan stabilitas moneter dan sistem keuangan pada triwulan I 2009 masih mengalami tekanan berat, sementara pertumbuhan ekonomi juga dalam tren menurun akibat kontraksi ekspor barang dan jasa yang cukup dalam. Kondisi tersebut Volume 1 Nomor 1 Edisi Februari 2016 ISSN : 2540-816X JOURNAL Ecoment Global 23 menurunkan kepercayaan pelaku ekonomi di sektor keuangan dan sektor riil, serta berpotensi menurunkan berbagai kinerja positif yang telah dicapai dalam beberapa tahun sebelumnya. (Badan Pusat Statistik, 2014) Sehubungan dengan hal diatas, maka perlu dilakukan suatu pengkajian ilmiah terhadap faktor - faktor yang mempengaruhi Produk Domestik Regional Bruto, Inflasi dan net ekspor provinsi di Indonesia. Dalam hal ini faktor - faktor yang dianalisis adalah Ekspor dan impor, Pengeluaran Pemerintah, Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi dan kurva penawaran agregat adalah titik keseimbangan ekonomi (equilibrium) yang menghasilkan suatu jumlah output agregat (PDB) tertentu dengan tingkat harga umum tertentu. Output agregat yang dihasilkan selanjutnya membentuk pendapatan nasional. Teori - teori pertumbuhan ekonomi yang berkembang antara lain:
1. Teori Pertumbuhan Klasik
2. TeoriPertumbuhanHarrod-Domar
3. TeoriPertumbuhanEkonomiSolow–Swan

Teori Konsumsi dari John Maynard Keynes Keynes mengedepankan variabel utama dalam analisisnya yaitu konsumsi dipengaruhi oleh tingkat pendapatan C = f (Y). Keynes mengajukan 3 asumsi pokok secara makro dalamt eorinya yaitu:
 1) Kecenderungan mengkonsumsi marginal (marginal propensity toconsume) i jumlah yang dikonsumsi dalam setiap tambahan pendapatan adalah antaranol dan satu.
2) Keynes menyatakan bahwa kecenderungan mengkonsumsi rata-rata (average prospensity toconsume), turunketika pendapatan naik.
 3) Keynes berpendapat bahwa pendapatan merupakan determinan konsumsi yang penting dan tingkat bunga tidak memiliki peranan penting. Sehingga secara garis besar terori konsumsi Keynes menyatakan bahwa, (besarkecil) konsumsi masyarakat sangat dipengaruhi oleh besarnya pendapatan. Sedangkan unsur tabungan tidak terlalu berdampak terhadap perubahan jumlah barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.


Pengertian Pertumbuhan Ekonomi

Secara umum, pertumbuhan ekonomi didefenisikan sebagai peningkatan kemampuan dari suatu perekonomian dalam memproduksi barang-barang dan jasa-jasa. Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu indikator yang amat penting dalam melakukan analisis tentang pembangunan ekonomi yang terjadi pada suatu negara. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas perekomian akan menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat pada suatu periode tertentu. Karena pada dasarnya aktivitas perekonomian adalah suatu proses penggunaan faktor - faktor produksi untuk menghasilkan output, maka proses ini pada gilirannya akan menghasilkan suatu aliran balas jasa terhadap faktor produksi yang dimiliki oleh masyarakat. Dengan adanya pertumbuhan ekonomi maka diharapkan pendapatan masyarakat sebagai pemilik faktor produksi juga akan meningkat. Pertumbuhan ekonomi bisa bersumber dari pertumbuhan pada sisi permintaan agregat dan sisi penawaran agregat. Seperti yang diilustrasikan pada gambar 1, titik perpotongan antara kurva permintaan agregat dan kurva penawaran agregat adalah titik keseimbangan ekonomi (equilibrium) yang menghasilkan suatu jumlah output agregat (PDB) tertentu dengan tingkat harga umum tertentu. Output agregat yang dihasilkan selanjutnya membentuk pendapatan nasional. Teori - teori pertumbuhan ekonomi yang berkembang antara lain:
1. Teori Pertumbuhan Klasik
2. TeoriPertumbuhanHarrod-Domar
3. TeoriPertumbuhanEkonomiSolow–Swan
Teori Pengeluaran Pemerintah Teorimikro mengenai pengeluaran pemerintah menyangkut faktor– faktor yang mempengaruhi timbulnya permintaan akan barang – barang publik dan faktor – faktor yang mempengaruhi tersedianya barang publik. Interaksi antara permintaan dan penawaran barang publik menentukan jumlah barang publik yang disediakan yang selanjutnya akan menimbulkan permintaan terhadap barang lain. Beberapa faktor yang mempengaruhi pengeluaran pemerintah yaitu:

 a. Perubahan permintaan akan barang publik.
b. Perubahan dari aktivitas pemerintah dalam menghasilkan barang publik dan perubahan dari kombinasi faktor produksi yang digunakan.
 c. Perubahan kualitas barang publik.
 d. Perubahan harga faktor– faktor produksi.

Teori Konsumsi dari John Maynard Keynes Keynes mengedepankan variabel utama dalam analisisnya yaitu konsumsi dipengaruhi oleh tingkat pendapatan C = f (Y). Keynes mengajukan 3 asumsi pokok secara makro dalamt eorinya yaitu:

1) Kecenderungan mengkonsumsi marginal (marginal propensity toconsume) ialah jumlah yang dikonsumsi dalam setiap tambahan pendapatan adalah antaranol dan satu.
2) Keynes menyatakan bahwa kecenderungan mengkonsumsi rata-rata (average prospensity toconsume), turunketika pendapatan naik.
3) Keynes berpendapat bahwa pendapatan merupakan determinan konsumsi yang penting dan tingkat bunga tidak memiliki peranan penting. Sehingga secara garis besar terori konsumsi Keynes menyatakan bahwa, (besarkecil) konsumsi masyarakat sangat dipengaruhi oleh besarnya pendapatan. Sedangkan unsur tabungan tidak terlalu berdampak terhadap perubahan jumlah barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. 

Teori Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Permanen (Milton Friedman) Teori ini disampaikan oleh Milton Friedman tahun 1957. Menurut teori ini pendapatan masyarakat dapat diklasifikasikan menjadi 2 yaitu pendapatan permanen (permanentincome) dan pendapatan sementara (transitory income) dengan definisi sebagai berikut:

1) Pendapatan permanen ialah pendapatan yang orang harapkan untuk terus bertahan dimasa depan (Mankiw, 2000).
2) Pendapatan sementara ialah pendapatan yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya. (Guritno dan Algifari, 1998). Kesimpulannya, teori konsumsi dari Milton Friedman berpikiran bahwa pendapatan permanen akan mempengaruhi besarnya jumlah kecenderungan mengkonsumsi rata - rata masyarakat.

 Kecederungan mengkonsumsi tersebut bisa saja mengarah pada jenis makanan atau non makanan bergantung pada besar-kecilnya jumlah pendapatan yang diterima oleh masyarakat. Teori Konsumsi dengan Hipotesis Daur/Siklus Hidup Teori konsumsi dengan Hipotesis Siklus Hidup disampaikan dikemukaanoleh Franco Modigliani. Modigliani menyatakan bahwa faktor sosial ekonomi seseorang sangat mempengaruhi pola konsumsi seseorang tersebu (Guritnodan Algifari, 1998). Modigliani menekankan bahwa pendapatan bervariasi dan tabungan secara sistematis yang terjadi selama kehidupan seseorang menjadi kankonsumen mampu menggerakkan pendapatannya ketika dalam kondisi tinggi ke kondisi yang rendah (Mankiw, 2007). Sehingga teori konsumsi dengan Hipotesis Daur Hidup dari Franco Modigliani berkesimpulan bahwa, konsumsi seseorang sangat dipengaruhi oleh kekayaan atau besarnya pendapatan yang diperoleh. Kecenderungan mengkonsumsi nilainya berdasarkan pada umur, selera dan tingkat bunga yang dimiliki oleh konsumen itu sendi
Teori Inflasi Tingkat harga dalam definisi inflasi, secara konseptual adalah tingkat harga ratarata tertimbang dari barang-barang dan jasajasa dalam perekonomian. Dalam prakteknya, tingkat harga tersebut diukur dengan indek harga, baik indek harga konsumen (IHK) mau pun indek harga produsen (IHP). Lawan dari inflasi adalah deflasi, yaitu penurunan tingkat harga umum (Samuelson dan Nordhaus, 1997:306) Menurut Boediono (1994:155) definisi singkat dari inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi. Syarat adanya kecenderungan menaikyang terus menerus juga perlu digaris – bawahi
Kenaikan harga-harga karena, misalnya, musiman, menjelang hariraya, bencana, dan sebagainya, yang sifatnya hanya sementara tidak disebut inflasi. Jenis - jenis inflasi dapat dikelompokkan berdasarkan “parah-tidaknya” inflasi dan berdasarkan penyebab awal terjadinya inflasi. Berdasarkan “parah-tidaknya”, inflasi dapat dikelompokkan menjadi (Boediono, 1994:156):

 1. Inflasi ringan (dibawah 10% setahun)
 2. Inflasi sedang (antara10 –30% setahun)
3. Inflasi berat (antara 30–100% setahun)
4. Hiperinflasi (di atas 100% setahun). Dalam hal ini Samuelson dan Nordhaus (1997:793), mengelompokkan inflasi menjadi tiga jenis, yaitu: inflasi moderat (moderat inflation), inflasi ganas (galloping inflation), dan hiperinflasi. Berdasarkan penyebab awal terjadinya inflasi, inflasi dapat dikelompokkan menjadi (Boediono,1994:156)

1. Inflasi yang timbul karena permintaan masyarakat akan berbagai barang terlalu kuat. Inflasi semacam ini disebut demand pullinflation.
2. Inflasi yang timbul karena kenaikan biaya produksi. Ini disebut cost pushinflation. Kedua jenis inflasi ini jarang sekali dijumpai dalam praktek dalam bentuk yang murni. Pada umumnya, inflasi yang terjadi diberbagai negara di dunia adalah kombinasi dari kedua jenis inflasi tersebut, dan sering kali keduanya saling memperkuat satu sama lain. 

Teori Perdagangan Internasional Dalam perekonomian terbuka, terdapat terdapat dua tingkat harga umum yaitu harga umum yang berlaku didalam negeri dan tingkat harga yang berlaku diluar negeri. Pengaruh dari adanya harga luar negeri ini terhadap proses ekonomi makro khususnya terletak pada timbulnya kemungkinan bagi pelaku-pelaku ekonomi untuk memilih apakah mereka akan membeli atau menjual dipasar luar negeri atau pasar dalam negeri. Keputusan semacam ini jelas mempunyai pengaruh yang penting terhadap posisi keseimbangan pasar barang dalam negeri dan pasar uang dalam negeri. Secara umum bisa dikatakan bahwa bila harga dipasar dalam negeri meningkat lebih cepat dari pada harga diluar negeri, maka pembeli dalam negeri akan cenderung untuk membeli dari pasar luar negeri (jadi impor cenderumg meningkat) sedangkan para penjual dalam negeri akan cenderung untuk menjual barangnya dipasar dalam negeri yang menyebabkan ekspor ke luar negeri berkurang (Boediono, 2001). Dengan mengunakan asumsi tersebut diperoleh kesimpulan bahwa dengan fungsi produksi yang sama dan bawaan faktor yang berbeda antar negara. Suatu negara cenderung untuk mengekspor komoditas yang relatif intensif dalam mengunakan fungsi yang relatif banyak dimiliki, dan dalam waktu yang bersamaan negara tersebut akan mengimpor komoditas yang produktifnya memerlukan sumberdaya yang relatif langka dan mahal (Salvatore, 1997). Adanya unsur keterbatasan atau perbedaan ketersediaan sumber daya yang dimiliki setiap negara, merupakan faktor utama dari munculnya spesialisasi. prinsip ini merupakandasar berkembangnya ekonomi perdagangan dan keuangan internasional. Kondisi tersebut menggiring setiap negara melakukan ekspor dan impor. Ekspor adalah suatu kegiatan ekonomi menjual produk dalam negeri ke pasar luar negeri. Impor adalah suatu kegiatan membeli produk luar negeri untuk keperluan atau di pasarkan dalam negeri. Ekspor dan Impor sangat penting untuk membentuk dan mengendalikan neraca perdagangan disuatu negara. Impor harus dibiayai dengan nilai  yang sama dari ekspor untuk mempertahankan ekuilibrium neraca perdagangan. Oleh karena itu negara harus melakukan ekporuntuk membiayai impor yang dibayarkan dengan mata uang asing sehingga dapat terjadi surplus neraca perdagangan. Kegiatan ekspor-impor yang dilakukan suatu negara dengan negara lain dalam perdagangan internasional akan memberikan manfaat bagi suatu negara. kelangsungan ekspor dilatarbelakangi oleh excess supply oleh satu pihak dan excessdemand dipihaklain. Konsep excesssupply terjadi disebabkan kecenderungan tingkat harga suatu barang mengalami kenaikan di atas harga keseimbangan yang berlaku dipasar, baik pasar domestik maupunin ternasional. Sedangkan excessdemand justru sebaliknya yaitu kecenderungan tingkat harga dibawah harga keseimbangan. Besarnya ekspor suatu negara bergantung terhadap permintaan impor negara lain sehingga mencapai keseimbangan perdagangan internasional yang disebut balancedof international trade. (Nasution, 2008).

 Teori Investasi Investasidalam ekonomimakro, juga dapat dibedakan atas investasi otonom (otonomous investment) dan investasi terpengaruh (induced investment). Investasi otonom adalah investasi yang tidak dipengaruhi oleh pendapatan nasional, artinya tinggi rendahnya pendapatan nasional tidak menentukan jumlah investasi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan. Jenis investasi ini umumnya dilakukan oleh pemerintah dengan maksud sebagai landasan pertumbuhan ekonomi berikutnya, misalnya investasi untuk pembuatanjalan, jembatan dan infrastruktur lainnya. Sedangkan investasi yang terpengaruh adalah investasi yang dipengaruhi oleh pendapatan nasional, artinya pendapatan nasional yang tinggiakan memperbesar pendapatan masyarakat dan selanjutnya pendapatan masyarakat yang tinggi tersebut akan memperbesar permintaan terhadap barang-barang dan jasa-jasa. Maka keuntungan perusahaan akan bertambah tinggi dan ini akan mendorong dilakukannya lebih banyak investasi. Kurs Rupiah Nilai tukar mata uang (exchangerate) atau sering disebutkurs merupakan harga mata uang terhadap mata uang lainnya. Kurs mata uang adalah perbandingan nilai antar mata uang yang menunjukkan harga suatu mata uang jika dibandingkan dengan mata uang lain. Menurut Kuncoro (1997), ada beberapa sistem kurs mata uang yang berlaku di perekonomian internasional, yaitu:

 a. Sistem kurs mengambang (floating exchangerate) Sistem kurs ini ditentukan oleh mekanisme pasar dengan atau tanpa upaya stabilisas ioleh otoritas moneter. Dimana dalam sistem mengambang terdapat dua sistem yaitu sistem mengambang bebasdan sistem mengambang yang terkendali.

b. Sistem kurs tertambat (peggedex changerate). Dalam sistem ini, suatu negara mengkaitkan nilai tukar mata uangnya dengan suatu mata uang negara lain atau sekelompok mata uang, yang biasanya merupakan mata uang negara partner dagang yang utama “menambatkan“ kesuatu mata uang berarti nilai tukar mata uang tersebut bergerak mengikuti mata uang yangmenjadi tambatannya. Jadi sebenarnya mata uang yang ditambatkan tidak mengalami fluktuasi tetapihanya berfluktuasi terhadap mata uang lain mengikuti mata uang yang menjadi tambatannya.

 c. Sistem kurs tertambat merangkak (crawlingpegs). Dalam sistem ini, suatu negara melakukan sedikit perubahan dalam nilai tukar mata uangnya secara periodik dengan tujuan untuk bergerak menuju nilai tertentu pada rentang waktu tertentu. Keuntungan utama sistem ini adalah suatu negara dapat mengatur penyesuaian kursnya dalam periode yang lebih lama dibanding sistem kurs tertambat. Oleh karena itu, sistem ini dapat menghindar ikejutan- kejutan terhadap perekonomian akibat revaluasi atau devaluasi yang tiba-tiba dan tajam.

d. Sistem sekeranjang mata uang(basket of currencies). Banyak negara terutama negara sedang berkemban menetapkan nilai tukar mata uangnya berdasarkan sekeranjang mata uang. Keuntungan dari sistem ini adalah menawarkan stabilitas mata uang suatu Negara karena pergerakan mata uang disebar dalam sekeranjang mata uang. Seleksi mata uang yang dimasukkan dalam “keranjang“ umumnya ditentukan oleh peranannya dalam membiayai perdagangan Negara tertentu. Mata uang yang berlainan diberi bobot yang berbeda tergantung peran relatifnya terhadap negara tersebut. Jadi sekeranjang mata uang bagi suatu negara dapat terdiri dari beberapa mata uang yang berbeda dengan bobot yang berbeda.

 e. Sistem kurs tetap (fixedex changerate). Dalam sistem ini, suatu negara mengumumkan suatu kurs tertentu atas nama uangnya dan menjaga kurs ini dengan menyetujui untuk menjual atau membeli valas dalam jumlah tidak terbatas pada kurs tersebut. Kurs biasanya tetap atau diperbolehkan berfluktuasi dalam batas yang sangat sempit. Dalam sistem mata uang mengambang bebas (free float), apa bila harga suatu mata uang menjadi semakin mahal terhadap mata uang lain, maka mata uang itu disebut berapresiasi. Sebaliknya jika harga suatu mata uang turun terhadap mata uang lain, mata uang itu disebut terdepresiasi. Kurs mata uang asing mengalami perubahan nilai yang terus menerus dan relatif tidak stabil. Perubahan nilai ini dapat terjadi karena adanya perubahan permintaan dan penawaran atas suatu nilai mata uang asing pada masing-masing pasar pertukaran valuta dari waktu ke waktu. Sedangkan perubahan permintaan dan penawaran itu sendiri di pengaruhi oleh adanya kenaikan relatif tingkat bunga baik secara bersamasama maupun sendiri-sendiri terhadap negara. Penelitian Terdahulu Hasil penelitian I Made Yudisthira dan I Gede Sujana Budhiasa (2012) yang berjudul : Analisis Pengaruh Konsumsi, Investasi, dan Inflasi Terhadap Produk Domestik Bruto di Indonesia Tahun 2000- 2012 menunjukkan bahwa Variabel konsumsi dan investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sedangkan variabel inflasi berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Besarnya R-squared pada hasil estimasi model PDB adalah sebesar 0.986631, yang berarti bahwa 98.6631 persen perubahan nilai PDB di Indonesia secara bersama-sama mampu dijelaskan oleh variabel independen yang digunakan dalam model, yaitu investasi, konsumsi, dan tingkat inflasi. Sedangkan sisanya sebesar 1.3369 persen dapat dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model, seperti tingkat ISSN : 2540-816X Volume 1 Nomor 1 Edisi Februari 2016 28 Aris Munandar, SE., M.Si ekspor, pengeluaran pemerintah,dan lainlain. Adrian Sutawijaya dan Zulfahmi (2012) meneliti dengan judul: Pengaruh Faktor-Faktor Ekonomi Terhadap Inflasi di Indonesia, hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat suku bunga, jumlahuang beredar, investasi, dan nilai tukar secara simultan mempengaruhi inflasi di Indonesia. Tingkat bunga memiliki pengaruh positif 1,289%. Uang beredar akan memiliki pengaruh positif terhadap inflasi 0,001%. Investasi berdampak negatif inflasi - ,0001802%. Kurs memiliki dampak positif pada inflasi 0,00427%. Sri Endang Rahayu (2011) meneliti dengan judul: Analisis Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Sumatera Utara, hasil penelitian menunjukkan pengeluaran aparatur daerah mempunyai pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara dengan besar koefisien 35,697. Artinya apabila pengeluaran aparatur daerah naik 1%, ceteris paribus maka pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara naik sebesar 35,697%. Variabel X2 (pelayanan publik) mempunyai pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi diSumatera Utara dengan besar koefisien 51,062. Artinya apabila pelayanan publik naik 1%, ceterisparibus maka pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara naik sebesar 51,062%. Primawan Wisda Nugroho, Maruto Umar Basuki (2012) meneliti dengan judul: Analisis Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Inflasi Di Indonesia Periode 2000.1-2011.4, hasil penelitian menunjukkan Variabel produk domestik bruto (PDB) memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap inflasi dengan nilai koefisien sebesar 0,011, artinya apabila variable independen lainnya konstan, maka setiap kenaikan PDB sebesar satu rupiah akan menaikkan inflasi sebesar 0,011.Variabel suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI), memiliki hubungan positifdan signifikan terhadap inflasi dengan nilai koefisien sebesar 1,08, artinya apabila variabel independen lainnya konstan, maka setiap kenaikan SBI sebesar satu rupiah akan menaikkan inflasi sebesar 1,08.Variabel jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) memiliki hubungan negatif dan signifikan terhadap inflasi dengan nilai koefisien sebesar 0,001, artinya apabila variabel independen lainnya konstan, maka setiap kenaikan jumlah uang beredar (M2) sebesar satu rupiah akan menurunkan Inflasi sebesar 0,001.Variabelkurs memiliki hubungan positif dan tidak signifikan terhadap inflasi dengan nilai koefisien sebesar 0.001, artinya apabila variabel independen lainnya konstan, maka setiap kenaikan tingkat kurs sebesar saturupiah akan menaikkan Inflasi sebesar 0.001

KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penelitian mengenai Analisis Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Net Ekspor Provinsi di Indonesia dapat disimpulkan sebagai berikut:
 Faktor – faktor yang mempengaruhi Inflasi Provinsi di Indonesia selama tahun pengamatan 2009 – 2013 adalah rata – rata konsumsi perkapita sebulan provinsi dan Impor provinsi. Hasil analisis secara simultan rata – rata konsumsi perkapita sebulan provinsi dan impor provinsi berpengaruh positif signifikan terhadap Inflasi Provinsi di Indonesia. Secara parsial rata – rata konsumsi perkapita sebulan provinsi berpengaruh positif signifikan terhadap Inflasi Provinsi di Indonesia atau dengan kata lain apabila ada peningkatan rata – rata konsumsi perkapita sebulan provinsi maka akan berpengaruh terhadap peningkatan Inflasi Provinsi di Indonesia. Impor Provinsi berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap Inflasi Provinsi di Indonesia atau dengan kata lain kenaikan impor Provinsi belum tentu akan menaikkan Inflasi Provinsi di Indonesia.
Disarankan research selanjutnya menjelkaskan lagi secara terperinci mengenai inflasi yang terjadi di indonesia dan faktor- faktornya yang mempengaruhinya.

DAFTAR PUSTAKA
 Arsyad, Lincoln. 1999. Ekonomi Pembangunan Edisi Kedua. STIE YKPN. Yogjakarta.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), 2013,
 Pembangunan Daerah Dalam Angka 2013.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), 2014,
Pembangunan Daerah Dalam Angka 2014.
 Badan Pusat Statistik, 2014. Produk Domestik Bruto Menurut Penggunaan 2008-2013.
 Bank Indonesia. 2013. Laporan Perekonomian Indonesia 2013.
Boediono, 2001. Indonesia Menghadapi Ekonomi Global. BPFE Yogyakarta 2001.
 Boediono, 2005. Teori Pertumbuhan Ekonomi. Yogyakarta: BPFE
 Boediono. 1994.Teori Ekonomi Makro. Edisi Keempat. BPFE UGM. Yogyakarta.

Ernita, Dewi. Amar, Syamsul dan Sofyan, Efrizal. 2013. Analisis Pertumbuhan Ekonomi, Investasi dan Konsumsi di Indonesia. Jurnal Kajian Ekonomi, Januari 2013, Vol 1, No. 2

Kamis, 05 Januari 2017

ETIKA PROFESI AKUNTANSI



ISSN: 2302-8556

E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 4.1 (2013): 39-53



PENGARUH INDEPENDENSI , PROFESIONALISME, DAN

ETIKA PROFESI TERHADAP KINERJA AUDITOR PADA

KANTOR AKUNTAN PUBLIK DI BALI

Kompiang Martina Dinata Putri1
I.D.G Dharma Suputra2

1Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana, Denpasar, Bali
e-mail : kompiang.martina@gmail.com/ 085738178592
2Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana, Denpasar, Bali


ABSTRAK :  Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh independensi, profesionalisme, dan etika profesi terhadap kinerja auditor pada kantor akuntan publik di Bali. Metode yang dipergunakan dalam pengambilan sampel ialah purposive sampling. Jumlah kuisioner yang disebarkan sebanyak 76 kuisioner. Namun, yang kembali dan dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut sebanyak 55 kuisioner. Analisis data yang pergunakan ialah regresi linear berganda dengan melihat koefisien determinasi, nilai statistik F dan statistik t. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa independensi, profesionalisme, dan etika profesi berpengaruh positif terhadap kinerja auditor. Hal ini membuktikan bahwa semakin tinggi tingkat independensi, profesionalisme, dan etika profesi maka semakin tinggi hasil kinerja yang dihasilkan oleh auditor.

Kata kunci: Independensi, Profesionalisme, Etika Profesi, dan Kinerja Auditor

ABSTRACT :  This study has the objective to determine the effect of independence, professionalism, and ethics of the profession on the performance of auditors in public accounting firms in Bali. Use the method of sampling is purposive sampling. Number of questionnaires were distributed by 76 questionnaire. However, the back and can be used for further analysis by 55 questionnaire. Analysis data is to use multiple linear regression to look at the coefficient of determination, the value of F statistics and t statistics. The results in this study show that the independence, professionalism, and ethics of the profession has a positive effect on the performance of auditors. This proves that the higher level of independence, professionalism, and ethics of the profession, the higher the performance results generated by the auditor.
Keywords: Independent, Profesionalisme, Ethic of Professional, and Auditors Performance.

PENDAHULUAN

Audit atas laporan keuangan perusahaan oleh pihak ketiga sangat diperlukan untuk meningkatkan kredibilitas perusahaan, sehingga memperoleh laporan keuangan yang dapat dipercaya oleh manajemen dan digunakan sebagai dasar

pengambilan keputusan. Salah satu kebijakan yang sering ditempuh oleh perusahaan adalah dengan melakukan audit terhadap laporan keuangan perusahaan dimana pihak independen sebagai pihak ketiga yaitu akuntan publik.

            Seorang akuntan publik yang profesional dapat dilihat dari hasil kinerja auditor dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Untuk menghasilkan kinerja yang memuaskan seorang auditor harus memiliki sikap yang jujur atau independen dalam melaporkan hasil audit terhadap laporan keuangan (Trisnaningsih, 2007).

            Independensi memiliki arti bahwa seorang akuntan publik harus jujur tidak hanya terhadap manajemen dan pemilik perusahaan, tetapi terhadap kreditur dan pihak lain yang dimana mereka meletakkan keyakinan pekerjaan mereka pada akuntan publik (Christiawan, 2002). Bagi akuntan publik keharusan memelihara atau mempertahankan sikap mental yang independen dalam rangka memenuhi tanggungjawab profesionalnya bukanlah satu-satunya hal yang esensial akan tetapi kepercayaan para pemakai laporan keuangan terhadap independensi akuntan publik juga merupakan hal yang sangat penting (Winarna, 2005).

            Selain itu menurut Swanger et al. (2001) persaingan yang terjadi antar kantor akuntan publik telah menyebabkan stagnasi pendapatan audit, dalam upaya untuk mempertahankan pertumbuhan dan profitabilitas, perusahaan audit telah berusaha mencari alternatif sumber pendapatan dengan menawarkan berbagai jenis layanan profesional termasuk audit internal, ini tentunya dapat mengancam pada objektivitas dan independensi auditor yang telah mengalami kemunduran dari waktu ke waktu.

            Selain independensi sikap profesionalisme seorang auditor sangat berperan penting dalam pemeriksaan laporan keuangan perusahaan. Menurut Hudiwinarsih (2010) sikap profesional sering dinyatakan dalam literatur, profesionalisme berarti bahwa orang bekerja secara profesional.Sedangkan menurut penelitianFriska (2012) profesionalisme berarti bahwa auditor wajib melaksanakan tugas-tugasnya dengan kesungguhan dan kecermatan, sebagai seorang yang professional, auditor harus menghindari kelalaian dan ketidakjujuran.

            Jadi dapat disimpulkan apabila seorang auditor tidak memiliki atau telah kehilangan sikap profesionalismenya sebagai seorang auditor maka sudah dapat diyakini bahwa auditor tersebut tidak akan dapat menghasilkan hasil kinerja yang memuaskan dan dengan baik, maka dengan begitu kepercayaan dari masyarakat akan hilang begitu saja terhadap auditor tersebut. Oleh sebab itu sangatlah diperlukan sikap profesionalisme tersebut dalam menyelesaikan tugas – tugas dengan tepat waktu.

            Selain independensi dan profesionalisme faktor yang berpengaruh terhadap kinerja auditor dalam penelitian iniadalah etika profesi. MenurutAriyanto, dkk. (2010) etika profesi sangatlah dibutuhkan oleh masing-masing profesi, untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, seperti profesi auditor. MenurutHalim (2008:29) etika profesi meliputi suatu standar dari sikap para anggota profesi yang dirancang agar sedapat mungkin terlihat praktis dan realitis, namun tetap idealistis. Setiap auditor harus mematuhi etika profesi mereka agar tidak menyimpangi aturan dalam menyelesaikan laporan keuangan kliennya.



         Fenomena-fenomena kasus suap yang terjadi pada auditor akhir-akhir ini membuat independensi seorang auditor dipertanyakan kembali oleh masyarakat. Kasus pelanggaran sikap independensi yang dilakukan akuntan publik Justinus Aditya Sidharta, dimana ia melakukan kesalahan dalam mengaudit laporan keuangan PT. Great River Internasional, Tbk memunculkan suatu paradigma dimana masalah tersebut memang tidak mampu dibaca oleh akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan tersebut atau sebenarnya telah terbaca oleh auditor tersebut namun auditor tersebut sengaja memanipulasinya. Apabila kenyataan akuntan publik ikut memanipulasi laporan keuangan tersebut, maka independensi auditor tersebut patut dipertanyakan kembali (Benny, 2010)

              Kasus yang terjadi pada auditor di BUMN dimana komisaris PT Kereta Api mengungkapkan adanya suatu kebohongan atau manipulasi laporan keuangan BUMN tersebut di mana seharusnya perusahaan menerima kerugaian tetapi auditor melaporkan menerima keuntungan. Dari dua kasus tersebut dapt kita simpulkan, bahwa seorang akuntan publik sudah seharusnya menaati dan memegang secara teguh Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) (Irsan, 2011). Apabila seorang auditor tidak dapat menjalankan tugasnya sesuai dengan etika maka izin yang dimiliki auditor tersebut akan dicabut seperti yang terjadi terhadap Akuntan Publik Justinus Aditya Sidharta yang jelas - jelas telah melakukan pelanggaran terhadap SPAP berkaitan dengan Laporan Audit atas Laporan Keuangan Konsolidasi dimana hal ini akan merusak nama baik dari akuntan publik tersebut dan kepercayaaan masyarakat terhadap akuntan publik tersebut tentu akan rusak.


Kajian Pustaka Dan Pengembangan Hipotesis
            
Independensi

            Menurut Halim (2008:46), independensi merupakan suatu cerminan sikap dari seorang auditor untuk tidak memilih pihak siapapun dalam melakukan audit. Independensi adalah sikap mental seorang auditor dimana ia dituntut untuk bersikap jujur dan tidak memihak sepanjang pelaksaan audit dan dalam memposisikan dirinya dengan auditee-nya. Berdasarkan paparan tersebut, maka hipotesis yang dikembangkan adalah :

H1 : Independensi berpengaruh positif terhadap kinerja auditor

Profesionalisme

            Menurut Rahma (2012) profesionalisme adalah suatu atribut individual yang penting tanpa melihat suatu pekerjaan merupakan suatu profesi atau tidak. Jadi dapat dikatakan bahwa profesionalisme itu adalah sikap tanggungjawab dari seorang auditor dalam menyelesaikan pekerjaan auditnya dengan keikhlasan hatinya sebagai seorang auditor.Berdasarkan paparan di atas, maka hipotesis yang dikembangkan adalah :

H1 : Profesionalisme berpengaruh positif terhadap kinerja auditor

Etika Profesi

            Memahami peran perilaku etis seorang auditor dapat memiliki efek yang luas pada bagaimana bersikap terhadap klien mereka agar dapat bersikap sesuai dengan aturan akuntansi berlaku umum (Curtis et al., 2012). Menurut Utami (2009) etikaberkaitan dengan perilaku moral dan berfungsi sebagai kontrol pelaksanaan suatu aktivitas.Berdasarkan paparan di atas, maka hipotesis yang dikembangkan adalah :

H1 : Etika profesi berpengaruh positif terhadap kinerja auditor

Kinerja Auditor

            Kinerja adalah suatu hasil karyayang telah dihasilkan oleh seseorang dalam melaksanakan dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan ketepatan waktu (Trianingsih, 2007). Kinerja dapat diartikan suatu hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh individu dimana dalam menyelesaikan pekerjaanya dengan tepat waktu dan menggunakan waktu tersebut seefisien mungkin untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.

METODE PENELITIAN

            Penelitian ini berlokasi di Kantor Akuntan Publik di Bali yang terdaftar pada Direktori IAPI. Variabel bebas (independent) dalam penelitian ini yakni independensi, profesionalisme, etika profesi sedangkan varibel terikat (dependent) yakni kinerja auditor. Penelitian ini telah menyebarkan kuisioner sebanyak 76 eksemplar dengan menggunakan jenis data primer dan yang memenuhi kriteria purposive sampling dalam penelitian ini adalah sebanyak 55 eksemplar. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis linear berganda.

HASIL DAN PEMBAHASAN

            Penelitian ini dilakukan pada kantor akuntan publik di Bali yang tercatat di Direktori IAPI 2013. Penelitian ini telah menyebarkan kuesioner sebanyak 76 eksemplar untuk seluruh auditor pada kantor Akuntan Publik di Bali, yang direspon oleh 55 auditor (response rate sebesar 72,36 persen), dimana ke 55 kuisioner yang telah dilengkapi oleh masing-masing responden memenuhi syarat untuk dianalisi.

Hasil Pengujian Hipotesis


1)         Pengujian Hipotesis pertama (H1)

Pada hipotesis pertama (H1) dikemukakan bahwa independensi berpengaruh positif terhadap kinerja auditor. Untuk menguji pengaruh independensi terhadap kinerja auditor dilihat pada hasil uji statistik dengan SPSS pada Tabel 4.13. Hasilnya menunjukkan koefisien regresi sebesar 0,075 dengan probabilitas sebesar 0,01 kurang dari tingkat signifikansi 5 persen (0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa independensi berpengaruh positif terhadap kinerja auditor.

2)         Pengujian Hipotesis kedua (H2)

            Pada hipotesis kedua (H2) dikemukakan bahwa profesionalisme berpengaruh positif terhadap kinerja auditor. Untuk menguji pengaruh profesionalisme terhadap kinerja auditor dapat dilihat pada hasil uji statistik dengan SPSS pada Tabel 4.13. Hasilnya menunjukkan koefisien regresi sebesar 0,228 dengan probabilitas sebesar 0,00 kurang dari tingkat signifikansi 5 persen (0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa profesionalisme berpengaruh positif terhadap kinerja auditor.

3)         Pengujian Hipotesis ketiga (H3)

            Pada hipotesis ketiga (H3) dikemukakan bahwa etika profesi berpengaruh positif terhadap kinerja auditor. Untuk menguji pengaruh etika profesi terhadap kinerja auditor dapat dilihat pada hasil uji statistik dengan SPSS pada Tabel 4.13. Hasilnya menunjukkan koefisien regresi sebesar 0,238 dengan probabilitas sebesar 0,00 kurang dari tingkat signifikansi 5persen (0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa etika profesi berpengaruh positif terhadap kinerja auditor.

Berdasarkan perhitungan tabel 4.13 dapat dilihat hasil uji regresi linear berganda sebagai berikut :

Y  = 21,221 + 0,075 X1 + 0,228 X2+ 0,238 X3.......................................................
(1)


Dimana :


Y
: Kinerja Auditor
X1
: Independensi
X2
: Profesionalisme
X3
: Etika Profesi



Tabel 1.

Hasil Uji Regresi Linier Berganda




Undstandartized
Standardized




Coefficients
Coefficients










Variabel
B
Std. Error
Beta
t
Sig.






Independensi
0,075
0,028
0,095
2,664
0,01
Profesionalisme
0,228
0,018
0,477
12,98
0,00
Etika profesi
0,238
0,017
0,470
13,83
0,00







Constnt
=  21,221





R
=  0,993





Adjusted RSquare = 0,985






F hitung =  1135,217

Sig. Fhitung =  0,000




1)       Koefisien konstanta bernilai 21,221 yang memiliki arti bahwa ketiga variabel X1, X2, X3 konstan pada angka 0 (nol) maka Y sebesar 12,277.

2)     Koefisien regresi X1 bernilai 0,07, membuktikan bahwa ada pengaruh positif variabel X1 terhadap Y. Nilai koefisien sebesar 0,075 memiliki arti jika X1 naik sebesar 1 satuan, maka nilai Y akan meningkat sebesar 0,075 dengan asumsi variabel X2 dan X3 konstan.

3)     Koefisien regresi (X2) bernilai 0,228, membuktikan bahwa ada pengaruh positif variabel X2 terhadap Y. Nilai koefisien sebesar 0,228 memiliki arti jika X2 naik sebesar 1 satuan, maka nilai Y akan meningkat sebesar 0,228 dengan asumsi variabel X1 dan X3 konstan.

4)     Koefisien regresi (X3) bernilai 0,238, membuktikan bahwa ada pengaruh positif variabel X3 terhadap Y. Nilai koefisien sebesar 0,238 memiliki arti jika X3 naik sebesar 1 satuan, maka nilai Y akan meningkat sebesar 0,238 dengan asumsi variabel X1 dan X2 konstan.

5)     Adjusted R Square bernilai 0,985 mempunyai arti bahwa 98,5 % dari kinerja auditor pada KAP di Bali dipengaruhi oleh variabel X1, X2, dan X3, sedangkan 1,5 % dipengaruhi oleh faktor lainnya



Pengaruh Independensi Terhadap Kinerja Auditor Pada Kantor Akuntan

Publik di Bali

            Hipotesis pertama (H1) dikemukakan bahwa independensi berpengaruh positif terhadap kinerja auditor. Hasilnya membuktikan bahwa independensi berpengaruh positif terhadap kinerja auditor. Independensi auditor adalah suatu sikap kejujuran seoarang auditor untuk menyelasaikan tugas – tugasnya dengan kesungguhan hati agar menghasilkan kinerja yang maksimal dan tinggi. Hal ini mendukung hasil penelitian Allen et al. (2005) dan Alim, dkk (2007) yang menyatakan bahwa independensi terbukti berpengaruh positif terhadap kinerja auditor, yang dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi independensi auditor maka kinerja auditor yang dihasilkan akan semakin lebih baik.

Pengaruh Profesionalisme terhadap Kinerja Auditor pada Kantor Akuntan

Publik di Bali

            Hipotesi kedua (H2) dikemukakan bahwa profesionalisme berpengaruh positif terhadap kinerja auditor. Hasilnya menunjukkan bahwa profesionalisme berpengaruh positif terhadap kinerja auditor. Apabila seorang auditor tidak dapat melaporkan laporan audit dengan tidak tepat waktu ini tentu akan berdampak pada menurunnya sikap profesionalisme dari seorang auditor tersebut dan auditor tersebut telah gagal dalam mempertahankan sikap profesionalismenya dalam pekerjaannya.

            Hal tersebut membuat profesionalisme dari seorang auditor sangat berpengaruh terhadap kinerja auditor. Hal ini mendukung penelitian Bamber (2002), Cohen (2001), Pawitra (2011) yang menunjukkan bahwa profesionalisme berpengaruh positif terhadap kinerja auditor, yang dimana semakin tinggi tingkat keprofesionalismean auditor maka kinerja yang dihasilkan akan semakin memuaskan.


Pengaruh Etika Profesi Terhadap Kinerja Auditor Pada Kantor

Akuntan Publik di Bali

            Hipotesis ketiga (H3) dikemukan bahwa etika profesi berpengaruh positif terhadap kinerja auditor. Hasilnya menunjukkan bahwaetika profesi berpengaruh positif terhadap kinerja auditor.Hasil ini sama dengan hasil penelitian dari Ariani (2009) yang menyatakan bahwa etika profesi berpengaruh positif terhadap kinerja auditor yang dimana apabila seorang auditor tidak memiliki atau mematuhi etika profesinya maka ia tidak akan dapat menhasilkan kinerja yang memuaskan bagi dirinya sendiri maupun kliennya. Oleh sebab itu seorang auditor haruslah memegang teguh etika profesinya sebagai seorang auditor agar tidak menyalah gunakan profesinya sendiri.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

            Berdasarkan jabaran di atas tersebut dapat disimpulkan bahwa independensi, profesionalisme, dan etika profesi berpengaruh terhadap kinerja auditor karena semakin tinggi sikap independensi, profesionalisme, dan etika auditor seorang auditor maka kinerja yang dihasilkan akan semakin tinggi. Auditor yang mampu mengambil posisi independen dalam setiap melaksanakan tugasnya dan memiliki kemampuan yang memadai di bidang profesinya disertai dengan etika kerja yang konsisten maka akan berdampak pada kinerjanya yang semakin berkualitas.


Keterbatasan Penelitian dan Saran

            Hasil penelitian ini hanya dapat dijadikan analisis pada obyek penelitian yang cukup terbatas yaitu profesi auditor pada kantor akuntan publik, dan pemilihan sampelnya hanya pada kantor akuntan publik di wilayah propinsi Bali, sehingga adanya kemungkinan perbedaan pada hasil penelitian dan kesimpulan apabila penelitian yang dilakukan pada tempat obyek penelitian yang berbeda dengan profesi yang berbeda pula. Selain itu penelitian ini hanya menggunakan 3 variabel yakni independensi, profesionalisme , etika profesi

            Disarankan agar research selanjutnya bisa menambahkan faktor yang mempengaruhi kinerja auditor dan memperluas wilayah yang diteliti bila memungkinkan. Selain itu peneliti menyarankan bagi kantor akuntan publik agar meningkatkan dan mempertahankan sikap independensi , profesionalisme, dan etika profesi bagi auditornya agar tidak terjadinya manipulasi laporan keuangan di kemudian hari dan meningkatkan ketiga sikap tersebut agar menghasilkan kinerja yang maksimal.

Implikasi Penelitian


            Dari hasil penelitian yang telah diperoleh, peneliti berharap hasil ini dapat

bermanfaat bagi semua pihak sebagai bahan refrensi bagi pihak akademis. Untuk

penelitian berikutnya diharapkan mampu memperluas dan mengembangkan

kembali penelitian ini.



REFRENSI

Alim, M Nizarul., Trisni Hapsari, Liliek Purwanti.2007. Pengaruh Kompetensi Dan Independensi Terhadap Kualitas Audit dengan Etika Auditor Sebagai Variabel Moderasi. Simposium Nasional Akuntansi.

Allen, Mary F., Linville, Mark, Stott, David M.2005.The Effect of Litigation on Independent Auditor Selection. American Journal of Business Volume20

(1).h:37.

Ariani. 2009. Pengaruh Profesionalisme, Etika Profesi, Tingkat Pendidikan dan Pengalaman Kerja Inspektorat Provinsi Bali. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Udayana.

Ariyanto, Dodik dan Ardani Mutia Jati. 2010. Pengaruh Independensi, Kompetensi, dan Sensitivitas Etika Profesi Terhadap Produktivitas Kerja Auditor Eksternal (Studi Kasus Pada Auditor Perwakilan BPK RI Provinsi Bali). Jurnal Akuntansi dan BisnisVolume 5 (2).h:157-168.

Bamber, E Michael dan Iyer, Venkataraman M.2002. Big 5 auditors' professional and organizational identification: Consistency or conflict. A Journal Practice & Theory Volume 20 (2).h:21.

Benny. 2010.   “Kasus Independensi   dan      Kompetensi    Akuntan”.


Christiawan, Y.J. 2002. Kompetensi dan Independensi Akuntan Publik: Refleksi Hasil Penelitian Empiris. Journal Directory:Kumpulan Jurnal Akuntansi dan KeuanganUnika Petra. Vol. 4 / No. 2.


Curtis, Mary B., Teresa L. Conover, Lawrence C. Chui.2012. A Cross-Cultural Study of the Influence of Country of Origin, Justice, Power Distance, and Gender on Ethical Decision Making.Journal Of Internasional Accounting Research Volume 11 ( 1 ).h:5-34.

Cohen, Jeffrey R danSingle Louise E.2001.An Examination Of The Perceived Impact Of Flexible Work Arrangements Professional Opportunities In Public Accounting.Journal of Business Ethics volume 32(4).h: 317.

Friska, Novanda.2012.Pengaruh Profesionalisme Auditor, Etika Profesi Dan pengalaman Auditor Terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.

Halim, Abdul. 2008. Auditing (Dasar-dasar Audit Laporan Keuangan).Jilid 1.Edisi Keempat.Yogyakarta: UPP STIM YKPN.

Hudiwinarsih, Gunasti.2010. Auditors’Experience  ,           Competency,   And     Their

Independency As The Influencial Factors In Professionalism.Journal of Economics, Business and Accountancy Ventura Volume 13 ( 3 ).h:253-264.

Irsan.   2011.   “Etika  Profesi Akuntansi       dan      Contoh            Kasus”.


Pawitra, Abdillah. 2011. Analisis Pengaruh Profesionalisme dan Etika Profesi Terhadap Kinerja Auditor Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia di Jakarta. Tesis Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Rahma, Ferdigita.2012. Pengaruh Profesionalisme, Etika Proefsi, Tingkat Pendidikan, Independensi auditor, Pengalaman Kerja dan Budaya Kerja Auditor Pada Kantor Akuntan Publik Di Bali. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Udayana.

Swanger, Susan L., Chewning, Eugene G, Jr.2001.The effect of internal audit outsourcing on financial analysts' perceptions of external auditor independence.Journal Auditing Volume 20 ( 2).h:115.

Trianingsih, Sri. 2007. Independensi Auditor Dan Komitmen Organisasi Sebagai Mediasi Pengaruh Pemahaman Good Governance, Gaya Kepemimpinan Dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Auditor . Jurnal Akuntansi Volume 2 ( 2 ).h: 1-56.

Utami, Ratna.2009.Perbedaan Penerapan Etika Profesi Akuntan Pada Perilaku Auditor Yunior Dan Auditor Senior ( Studi Terhadap Auditor Yang Bekerja Pada KAP Di Malang ).Jurnal Akuntansi Volume 6( 2).h:108-115.

Winarna, Jaka. 2005. Independensi   Auditor : Suatu Tantangan Di Masa Depan.

Jurnal Akuntansi Volume 5 ( 2 ).h: 178-186.

Penulis : Kompiang Martina Dinata Putri1